Hauge secara spesifik menyebutkan bahwa 20 menit terakhir menjadi fase yang sangat menyiksa bagi rekan-rekannya. Tekanan konstan dari tuan rumah membuat Bodo/Glimt gagal mempertahankan organisasi permainan yang telah mereka bangun dengan susah payah sejak awal laga.
Bagi tim asal Norwegia, hasil ini adalah pelajaran berharga tentang betapa tipisnya margin kesalahan dalam kompetisi seketat Liga Champions. Mereka sempat tampil cukup berani dengan mencoba menekan Bayern di beberapa kesempatan melalui serangan balik cepat.
Joshua Kimmich bahkan hampir membawa Bayern unggul lebih awal, namun tembakannya hanya membentur tiang gawang. Momen tersebut menjadi satu-satunya celah berarti yang sempat dimiliki Bayern sebelum mereka benar-benar mendominasi jalannya pertandingan setelah turun minum.
Belajar dari kekalahan ini, Bodo/Glimt kini memiliki pekerjaan rumah besar terkait ketahanan mental dan fisik selama 90 menit penuh. Kehilangan kendali di babak kedua menjadi catatan kelam yang harus diperbaiki jika mereka ingin melangkah lebih jauh di turnamen ini.
Secara statistik, laga ini menegaskan mengapa Bayern selalu diunggulkan saat bermain di hadapan pendukung sendiri. Kapasitas mereka dalam mengonversi peluang menjadi gol di saat lawan mulai kelelahan menjadi pembeda utama pada pertandingan malam itu.