
Perusahaan pengelola perbendaharaan Bitcoin, Strive, baru saja menambah cadangan aset kripto miliknya secara signifikan melalui skema pelaksanaan waran oleh para investor. Penambahan ini memperkuat posisi Strive sebagai salah satu entitas publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia saat ini.
Strive melaporkan telah membeli 3.311 Bitcoin (BTC) tambahan pada pekan yang berakhir 9 Oktober 2024 lalu. Transaksi tersebut dilakukan pada harga rata-rata sekitar USD 84.500 per koin atau setara Rp1,33 miliar per kepingnya. Berdasarkan dokumen resmi yang diserahkan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat, total simpanan perusahaan kini mencapai 32.773 BTC.
Jumlah tersebut kini menempatkan Strive di posisi kelima sebagai perusahaan publik dengan cadangan Bitcoin terbanyak menurut data industri terbaru.
Penambahan aset ini didanai oleh investor yang mengeksekusi waran senilai USD 208 juta (sekitar Rp3,28 triliun). Waran merupakan instrumen keuangan yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham perusahaan pada harga tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
CEO Strive, Matt Cole, mengungkapkan melalui media sosial X bahwa antusiasme investor cukup tinggi menjelang batas waktu jatuh tempo pada Selasa kemarin. Ia mencatat masih terdapat sekitar 15,3 juta waran yang tersisa sebelum masa berlakunya berakhir. Langkah ini secara efektif meningkatkan eksposur pemegang saham yang ada terhadap pergerakan harga aset kripto nomor satu di dunia tersebut.
Di pasar modal, harga saham Strive dengan kode emiten ASST terpantau bergerak stabil pada level USD 27,52 (sekitar Rp434.000) per lembar saham.
Selain penambahan aset, perusahaan juga melakukan penyesuaian pada dokumen tata kelola untuk menetapkan batas harga penerbitan minimum saham mereka. Saham preferen SATA milik perusahaan kini memiliki ambang batas harga penerbitan sebesar USD 100 per lembar guna melindungi nilai investasi para pemegang saham dari dilusi yang berlebihan.
Pertumbuhan cadangan Bitcoin Strive sebesar 11,2 persen pekan lalu tercatat melampaui pertumbuhan jumlah saham biasa yang hanya meningkat 9,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa strategi perusahaan berhasil meningkatkan jumlah Bitcoin per saham meskipun ada penerbitan ekuitas baru ke pasar. Strategi semacam ini sering disebut sebagai akresi nilai bagi para investor yang ingin memiliki Bitcoin secara tidak langsung melalui kepemilikan saham perusahaan publik.
Langkah agresif Strive ini mendapat pujian dari Michael Saylor, pendiri sekaligus pemimpin perusahaan Strategy yang merupakan pelopor model perbendaharaan Bitcoin korporasi.
Saylor menilai Strive berhasil mengubah permintaan terhadap ekuitas digital menjadi permintaan nyata terhadap Bitcoin di pasar global yang kompetitif. Menurutnya, pertumbuhan pesat ini merupakan bukti nyata bagaimana pasar modal mulai mempercepat adopsi Bitcoin sebagai aset cadangan utama bagi korporasi besar.
Strategy sendiri baru saja menambah 250 BTC ke dalam kas mereka pada periode yang sama melalui skema pembelian yang rutin. Meski jumlah tambahannya lebih sedikit dari Strive pada pekan lalu, Strategy masih memegang posisi puncak di tingkat global dengan total kepemilikan mencapai 848.250 BTC. Kepemilikan Strategy yang sangat masif ini menjadikannya tolak ukur utama bagi sentimen investor institusi terhadap stabilitas pasar kripto di masa depan.
Di Indonesia, fenomena perusahaan publik yang mengalokasikan dana cadangan ke Bitcoin memang belum umum dilakukan oleh emiten di Bursa Efek Indonesia. Namun, tren di bursa Wall Street menunjukkan pergeseran paradigma yang sangat nyata di mana Bitcoin dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi jangka panjang. Banyak analis pasar modal memprediksi bahwa langkah Strive ini akan memicu lebih banyak perusahaan skala menengah untuk mengikuti jejak serupa guna mendiversifikasi neraca keuangan mereka di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Strive menggunakan kombinasi saham biasa dan saham preferen untuk menghimpun modal segar yang kemudian langsung dikonversi menjadi aset digital.
Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk tumbuh lebih cepat daripada sekadar mengandalkan pendapatan dari arus kas operasional konvensional. Dalam ekosistem keuangan modern, Bitcoin kian diterima sebagai bentuk emas digital yang memiliki likuiditas tinggi dan potensi kenaikan nilai yang signifikan bagi portofolio perusahaan publik.
Kondisi pasar kripto global saat ini juga terus dipantau berkaitan dengan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang sempat menyentuh angka 5 persen. Tekanan makroekonomi ini sering kali menjadi penentu apakah investor global akan terus menyalurkan modal ke instrumen berisiko tinggi atau beralih ke aset yang lebih aman. Meski demikian, kepercayaan diri perusahaan seperti Strive dan Strategy menunjukkan optimisme yang tetap kuat terhadap peran Bitcoin dalam sistem keuangan masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor