Bos Instinct Sebut Separuh Transaksi AI Agent Digunakan untuk Traveling

Platform agen kecerdasan buatan Instinct mencatatkan lonjakan aktivitas transaksi yang didominasi oleh sektor perjalanan global.
Pendiri Instinct, Noah Shinn, mengungkapkan bahwa lebih dari 50 persen transaksi pada platform besutannya berkaitan dengan kebutuhan perjalanan. Tren ini muncul seiring dengan kemampuan agen kecerdasan buatan dalam menyederhanakan proses pemesanan tiket maupun akomodasi secara otomatis.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Shinn menyebutkan bahwa volume transaksi tahunan platform tersebut kini mendekati angka USD 1 miliar atau sekitar Rp16,2 triliun. Meskipun ia tidak merinci metode penghitungan nilai tersebut, pencapaian ini tergolong luar biasa bagi perusahaan yang masih menggunakan sistem undangan terbatas. Pertumbuhan harian platform ini juga dilaporkan mencapai 10 persen, menunjukkan adopsi teknologi yang sangat cepat di kalangan pengguna awal.
Shinn membandingkan keunggulan Instinct dengan agen perjalanan konvensional atau situs pemesanan daring yang selama ini mendominasi pasar.
Menurutnya, situs perjalanan tradisional memang menyatukan berbagai jaringan hotel dan maskapai dalam satu antarmuka yang rapi. Namun, Shinn percaya bahwa pengalaman pengguna akan jauh lebih baik jika mereka cukup memberikan perintah suara atau teks yang bersifat mendesak.
"Saya rasa ada pengalaman yang lebih baik dengan Instinct atau antarmuka lain ketika pengguna bisa berkata, Hei, saya harus berada di New York malam ini, ini darurat," ujar Shinn. Pernyataan ini merujuk pada fleksibilitas agen kecerdasan buatan dalam menangani skenario logistik yang rumit dan mendadak. Teknologi AI agent sendiri merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk bertindak secara mandiri guna menyelesaikan tugas-tugas spesifik bagi pemiliknya.
Namun, pandangan Shinn mengenai sistem reservasi restoran menuai kritik pedas akibat beberapa komentarnya dalam acara tersebut.
Ia mengkritik sistem reservasi berbasis siapa cepat dia dapat yang banyak diterapkan oleh restoran saat ini. Shinn berpendapat bahwa sistem tersebut tidak mempertimbangkan urgensi atau momen spesial yang dimiliki oleh pelanggan tertentu.
Ia menjelaskan bahwa agen AI dapat memeriksa situs web restoran setiap lima detik untuk menginformasikan ketersediaan meja kepada pengguna. Shinn juga memberikan sinyal bahwa perusahaannya ingin menciptakan kembali sistem reservasi yang memberikan perlakuan istimewa kepada pengguna tertentu. Menurutnya, pihak restoran sebenarnya lebih menginginkan pelanggan dengan acara khusus dibandingkan warga lokal yang sekadar mengisi meja setiap malam tanpa agenda istimewa.
Kritik bermunculan karena pendekatan ini dinilai bisa mencederai integritas sistem reservasi yang adil bagi semua orang.
Beberapa pengamat menyoroti risiko bahwa agen AI bisa saja berbohong mengenai adanya perayaan ulang tahun atau acara spesial hanya demi mendapatkan meja. Padahal, banyak pemilik restoran justru lebih menghargai pelanggan lokal karena mereka adalah konsumen setia yang menjamin keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.
Terlepas dari kontroversi tersebut, Instinct baru saja mengantongi pendanaan Seri C sebesar USD 1 miliar atau sekitar Rp16,2 triliun pada hari Senin. Suntikan dana segar ini mendongkrak valuasi perusahaan hingga mencapai angka USD 10 miliar atau setara Rp162,2 triliun. Investor besar seperti Sequoia Capital, Benchmark Capital, dan Coatue tercatat sebagai pendukung utama dalam putaran pendanaan yang masuk dalam kategori tahap lanjut ini.
Perusahaan rintisan ini menarik perhatian dunia karena skalanya yang sangat ramping namun memiliki pengaruh finansial yang besar.
Saat ini, Instinct hanya diperkuat oleh 14 orang anggota tim yang harus bersaing dengan raksasa teknologi dunia di Silicon Valley. Mereka berkompetisi langsung dengan Muse milik Meta dan Wajo yang didukung oleh investor kawakan Vinod Khosla dalam perebutan pasar agen personal.
Persaingan di sektor agen personal ini diperkirakan akan semakin sengit seiring dengan integrasi kecerdasan buatan ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat global. Fokus pada sektor perjalanan dianggap sebagai langkah strategis karena tingginya kompleksitas koordinasi antarplatform dalam industri tersebut. Pola konsumsi jasa pariwisata diprediksi akan mengalami pergeseran besar jika teknologi ini terus berkembang secara masif.
Bagi industri pariwisata di Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi penyedia jasa lokal dalam menghadapi otomatisasi global.
Kemudahan pemesanan yang ditawarkan oleh AI agent berpotensi mengalihkan pasar dari biro perjalanan konvensional ke platform digital yang lebih cerdas. Perusahaan rintisan lokal pun dituntut untuk lebih adaptif dalam mengintegrasikan teknologi serupa agar tidak kehilangan daya saing di mata wisatawan internasional.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4566998/original/061616400_1694076572-000_APP2001040834031.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360352/original/036757100_1790629693-000_C9LK8WL-Turki_Italia.jpg)
