
Garrett Langley, CEO perusahaan pengawasan Flock, memberikan pernyataan kontroversial saat tampil di panggung TechCrunch Disrupt baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa teknologi mikrofon deteksi tembakan milik perusahaannya hanya dirancang untuk mengidentifikasi suara letusan senjata api.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan karena situs resmi Flock menampilkan informasi yang jauh lebih luas mengenai kemampuan perangkat mereka. Produk yang dikenal sebagai Gunshot Detection ini diklaim mampu mendeteksi berbagai suara lingkungan guna memberikan peringatan dini atas potensi gangguan keamanan publik.
Situs web perusahaan menyatakan bahwa sistem audio tersebut dapat mengenali berbagai insiden secara instan. Fitur ini mencakup deteksi pengambilalihan jalan oleh massa, tabrakan kendaraan yang parah, hingga suara kembang api yang sering dianggap mengganggu ketertiban umum.
Tahun lalu, perusahaan sempat mengumumkan fitur yang mampu mendeteksi jeritan manusia, namun kebijakan ini segera ditarik setelah mendapat kecaman keras dari kelompok privasi. Kritik tersebut menyoroti potensi pelanggaran privasi akibat perekaman suara manusia, yang memaksa perusahaan mengubah terminologi di situs mereka menjadi suara gangguan manusia sebelum akhirnya fitur itu dihilangkan sama sekali.
Dalam wawancaranya bersama editor TechCrunch, Connie Loizos, Langley menepis segala tuduhan mengenai misinformasi terkait produknya. Ia berdalih bahwa banyak kritikus tidak memahami cara kerja teknologi tersebut dan mengklaim perusahaan hanya berfokus pada suara tembakan setelah mendengar kekhawatiran dari masyarakat.
Klaim Langley mengenai batasan fitur ini tampak bertolak belakang dengan materi pemasaran yang masih tersedia di situs resmi mereka. Dokumentasi perusahaan secara jelas menyebutkan bahwa perpustakaan deteksi mereka terus berkembang untuk mencakup ancaman baru yang relevan dengan kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah.
Juru bicara Flock, Paris Lewbel, kemudian memberikan klarifikasi tambahan untuk menengahi perbedaan pernyataan tersebut. Ia menyebutkan bahwa teknologi audio perusahaan memang fokus pada tembakan, namun memiliki kapabilitas teknis untuk mendeteksi suara kembang api dan kecelakaan lalu lintas sesuai kebutuhan operasional kepolisian setempat.
Peningkatan pengawasan publik terhadap teknologi pengawasan massal seperti milik Flock terus tumbuh di Amerika Serikat. Sentimen negatif ini terlihat jelas di San Francisco, di mana para pengunjuk rasa berkumpul di luar tempat acara untuk menentang penggunaan teknologi pengawasan yang dianggap mengancam ruang pribadi warga sipil.
Tekanan terhadap perusahaan semakin nyata setelah beberapa negara bagian seperti Texas dan Florida memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerja sama mereka dengan Flock. Selain itu, kolaborasi perusahaan dengan platform keamanan rumah Ring milik Amazon juga telah resmi dihentikan di tengah kekhawatiran mengenai penyalahgunaan data.
Flock kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga reputasi di tengah pengawasan ketat dari kelompok advokasi privasi seperti American Civil Liberties Union (ACLU). Sebagian anggota masyarakat bahkan mulai mengambil tindakan ekstrem dengan merusak kamera pengawasan milik perusahaan yang terpasang di ruang publik.
Dalam perspektif teknologi keamanan, penggunaan mikrofon pendeteksi suara seperti ini mirip dengan perangkat ShotSpotter yang sudah lebih dulu digunakan oleh aparat penegak hukum di berbagai kota besar dunia. Hingga tahun 2024, ShotSpotter dilaporkan telah mengoperasikan sekitar 25.000 mikrofon untuk memantau aktivitas di area padat penduduk.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor