Di sektor ekonomi, ketidakpastian politik ini mulai mengkhawatirkan para pelaku industri besar di Jerman. Banyak investor asing kini bersikap menunggu sebelum merealisasikan komitmen investasi bernilai miliaran euro, atau setara puluhan triliun rupiah, karena mengkhawatirkan ketidakstabilan regulasi di masa depan.
Agenda reformasi Merz sebelumnya berfokus pada deregulasi pasar tenaga kerja dan insentif pajak bagi korporasi guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang sedang lesu. Akan tetapi, faksi sayap kiri di dalam koalisi pemerintahan dan beberapa mitra regional berpendapat bahwa kebijakan tersebut justru dapat memperlebar kesenjangan sosial. Menurut mereka, kesenjangan inilah yang selama ini menjadi bahan bakar utama bagi popularitas AfD di wilayah Jerman Timur.
Dalam pemilu di Thuringia, AfD berhasil mengamankan hampir 33 persen suara, sebuah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Wilayah bekas Jerman Timur, tempat Thuringia dan Saxony berada, secara historis memang memiliki dinamika ekonomi yang berbeda dengan wilayah barat. Tingkat pengangguran yang lebih tinggi dan perasaan terpinggirkan secara sosial membuat narasi populis AfD lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu, kegagalan Merz dalam menawarkan solusi ekonomi yang inklusif dinilai akan menjadi bumerang bagi ambisinya merebut kursi kanselir.
Saat ini, tekanan tidak hanya berada di pundak Merz, tetapi juga pada Kanselir Olaf Scholz yang popularitasnya terus merosot. Pertarungan politik di Berlin dalam beberapa bulan ke depan diprediksi akan semakin sengit seiring mendekatnya pemilu nasional tahun depan.