Erupsi Gunung Anak Krakatau Semburkan Abu Vulkanik hingga Ratusan Kilometer

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda kembali meningkat dengan menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi enam hingga 15 kilometer. Debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau ini dilaporkan telah menyebar hingga radius puluhan sampai ratusan kilometer dari pusat letusan.
Ahli vulkanologi dan mitigasi bencana gunung api, Danang Sri Hadmoko, menjelaskan bahwa volume dan tinggi kolom abu sangat dipengaruhi oleh kekuatan letusan itu sendiri.
Menurut Danang, magnitudo atau kekuatan letusan merupakan faktor utama yang menentukan seberapa banyak material vulkanik yang terlempar ke udara. Ketika kekuatan erupsi sangat besar, tinggi kolom abu akan mencapai lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Pada titik inilah mekanisme pergerakan angin mulai mengambil alih penyebaran abu vulkanik tersebut.
Selain kekuatan letusan, dinamika arah dan kecepatan angin di sekitar Selat Sunda memegang peranan besar dalam menentukan jangkauan debu vulkanik. Kecepatan angin yang tinggi dapat membawa partikel halus ini melintasi batas-batas administratif provinsi.
Arah angin saat ini memungkinkan abu vulkanik bergerak sejauh ratusan kilometer, seperti yang terpantau melalui citra satelit secara berkala.
Penyebaran debu ini juga bersifat radial atau menyebar ke segala penjuru mata angin dengan intensitas yang bervariasi. Danang menyebutkan bahwa persentase sebaran ke arah barat, timur, utara, atau selatan akan selalu berubah mengikuti kondisi atmosfer yang dinamis. Oleh karena itu, wilayah yang terdampak bisa meluas dengan cepat tergantung pada perubahan cuaca harian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan bahwa abu vulkanik setinggi 6,09 kilometer bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran pada ketinggian ini telah menjangkau wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, kolom abu yang mencapai ketinggian 15 kilometer dilaporkan bertiup ke arah barat daya hingga barat laut.
Semburan pada ketinggian maksimal ini berpotensi menjangkau wilayah Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia. Perbedaan arah sebaran ini menunjukkan adanya perbedaan pola angin pada setiap lapisan ketinggian atmosfer. Fenomena tersebut menuntut kewaspadaan tinggi bagi sektor penerbangan yang melintasi ruang udara tersebut.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa karakter letusan gunung api di Selat Sunda ini memang memiliki daya jangkau yang luas. Pada letusan hebat pendahulunya, Gunung Krakatau pada tahun 1883, dampak abu vulkanik bahkan sempat menurunkan suhu global akibat menghalangi sinar matahari.
Dampak jangka panjang dari abu vulkanik ini juga didukung oleh penelitian ilmiah global terkait letusan gunung api aktif lainnya.
Studi dari University of Colorado Boulder di Amerika Serikat mengenai letusan Gunung Kelud di Jawa Timur pada tahun 2014 menunjukkan hasil yang serupa. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa partikel abu vulkanik mampu bertahan di atmosfer dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Bahkan, partikel tersebut masih melayang di udara hingga berbulan-bulan setelah letusan utama mereda.
Peneliti utama dari Laboratory for Atmospheric and Space Physics di universitas tersebut, Yunqian Zhu, menyatakan bahwa partikel besar sekalipun dapat melayang di stratosfer. Satu bulan setelah letusan, instrumen pemantau masih mendeteksi keberadaan partikel yang menyerupai abu vulkanik di ketinggian tertentu.
Kondisi ini berpotensi mengganggu kualitas udara serta membahayakan kesehatan pernapasan masyarakat yang berada di bawah jalur sebaran abu.
Pemerintah daerah di sekitar Banten dan Lampung kini mulai mengimbau warga untuk kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Langkah antisipasi ini diambil guna menghindari dampak buruk partikel silika tajam yang terkandung dalam abu gunung api. Selain itu, pemantauan aktivitas seismik Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif selama 24 jam penuh.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor












