Anak Krakatau Erupsi, 4 Bandara Ditutup demi Hindari Bahaya Abu Vulkanik

AirNav Indonesia menghentikan operasional Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto sejak Minggu (6/9) akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Penutupan sementara ini dilakukan untuk melindungi keselamatan penerbangan dari ancaman sebaran debu vulkanik yang meluas ke sejumlah provinsi.
Berdasarkan data pantauan otoritas penerbangan, kolom abu vulkanik hasil erupsi yang dimulai sejak Jumat malam terpantau mencapai ketinggian antara 20.000 hingga 50.000 kaki. Material ini bergerak melintasi wilayah udara Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu sebelum akhirnya mengarah ke Samudra Hindia. Langkah tegas penghentian aktivitas di bandara tersebut diambil setelah partikel debu terdeteksi masuk ke dalam jalur navigasi udara yang padat.
Risiko yang ditimbulkan oleh abu vulkanik terhadap armada udara bukan sekadar gangguan pandangan, melainkan ancaman kegagalan mesin yang bersifat fatal.
Sejarah aviasi mencatat insiden besar pada tahun 1982 ketika pesawat British Airways B747 mengalami mati mesin total saat melintasi awan abu Gunung Galunggung. Pesawat yang sedang menempuh rute Kuala Lumpur menuju Perth tersebut kehilangan tenaga pada keempat turbinnya secara mendadak di ketinggian 11.300 meter.
Pilot Eric Moody berhasil melakukan pendaratan darurat di Jakarta setelah pesawat sempat meluncur tanpa daya selama 16 menit melewati awan debu pekat. Kejadian ini menjadi dasar bagi komunitas penerbangan internasional untuk menyusun standar prosedur keselamatan baru dalam menghadapi aktivitas gunung berapi. Hanya berselang tiga minggu dari insiden tersebut, sebuah pesawat Singapore Airlines juga melaporkan gangguan mesin serupa di area yang tidak jauh dari lokasi pertama.
Secara teknis, partikel debu vulkanik mengandung silika yang memiliki titik lebur lebih rendah daripada suhu operasional di dalam ruang bakar mesin jet.
Saat debu masuk ke dalam mesin, partikel ini akan mencair karena panas yang ekstrem dan kemudian membeku kembali menjadi lapisan kaca saat mendingin. Proses ini menyebabkan sumbatan pada aliran udara turbin yang memicu fenomena mati mesin atau engine flameout secara tiba-tiba.
Selain merusak mesin, material abu yang bersifat abrasif juga dapat mengikis kaca depan kokpit sehingga pilot kehilangan daya pandang saat mendarat. Partikel tajam tersebut menyumbat tabung pitot yang berfungsi mengukur kecepatan serta ketinggian, sehingga instrumen navigasi di dalam ruang kemudi memberikan data yang salah. Jika tidak segera ditangani, paparan asam dalam abu juga akan memicu korosi pada permukaan logam dan komponen avionik yang sangat sensitif.
Organisasi Meteorologi Dunia merespons risiko ini dengan mendirikan International Airways Volcano Watch (IAVW) sebagai sistem pemantauan global.
Sistem tersebut didukung oleh Volcanic Ash Advisory Centers (VAAC) yang bertugas menyebarkan informasi terbaru mengenai pergerakan debu kepada maskapai di seluruh dunia. Melalui koordinasi ini, pilot dapat mengambil jalur alternatif untuk menghindari zona berbahaya sebelum pesawat masuk ke area yang terpapar erupsi.
Di tingkat nasional, sinergi antara BMKG, PVMBG, dan AirNav menjadi garda terdepan dalam menjaga wilayah udara Indonesia yang berada di jalur cincin api. Pemantauan dilakukan selama 24 jam dengan menggunakan teknologi satelit untuk mendeteksi sebaran debu secara real-time. Keputusan penutupan bandara merupakan hasil verifikasi data lapangan yang memastikan bahwa tidak ada kompromi terhadap faktor keamanan penumpang.
Dampak ekonomi dari penghentian operasional ini memang besar, namun biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan mesin akibat debu vulkanik jauh lebih tinggi.
Kerusakan pada satu mesin jet akibat masuknya material erupsi dapat menelan biaya perbaikan hingga jutaan dolar Amerika Serikat. Oleh sebab itu, prosedur pembersihan total wajib dilakukan terhadap setiap pesawat yang terindikasi melintasi wilayah dengan konsentrasi abu tertentu demi menjamin kelaikan terbang.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










