Apple pun mengalami kendala serupa saat mengembangkan kecerdasan buatan untuk Siri. Janji mengenai Siri yang lebih cerdas dan kontekstual sempat tertunda berulang kali akibat masalah teknis, yang berujung pada penyelesaian hukum senilai USD 250 juta atau sekitar Rp3,9 triliun karena sengketa pemasaran produk iPhone 16.
Di sisi lain, produk perangkat keras seperti Humane AI Pin juga menjadi contoh kegagalan yang mencolok. Meski berhasil mengumpulkan dana investasi sebesar USD 230 juta atau setara Rp3,6 triliun, produk ini harus ditarik dari pasar karena masalah performa dan risiko keamanan baterai yang berbahaya bagi pengguna.
Nasib serupa menimpa Rabbit R1 yang sempat menarik perhatian di ajang CES 2024. Meskipun diklaim terjual hingga 100.000 unit, ulasan awal menyebut perangkat tersebut belum tuntas dikembangkan dan memiliki keterbatasan integrasi yang membuatnya kurang fungsional sebagai pendamping AI harian.
Banyak pengamat industri berpendapat bahwa kejatuhan proyek-proyek ini menunjukkan pergeseran fokus pasar. Pengguna kini cenderung beralih pada platform besar yang menawarkan solusi praktis dibandingkan mencoba aplikasi atau perangkat mandiri dengan fitur terbatas.
Belajar dari sejarah ini, perusahaan pengembang AI kini harus lebih selektif dalam mengalokasikan sumber daya. Keberlangsungan sebuah proyek tidak lagi hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, melainkan pada ketahanan model bisnis dalam menghadapi persaingan yang kian ketat di ranah digital.