
Paparan konten SkinnyTok di media sosial kini menjadi tantangan serius bagi orang tua dalam mengawasi kesehatan mental anak. Fenomena ini merujuk pada tren video di TikTok yang secara konsisten mempromosikan standar tubuh sangat kurus, budaya diet ketat, serta idealisme fisik yang sulit dijangkau.
Pengaruh algoritma yang terus menyodorkan konten serupa membuat anak rentan membandingkan diri dengan figur di layar ponsel. Dampaknya, muncul persepsi keliru bahwa ukuran tubuh seseorang menentukan nilai diri maupun tingkat keberhasilan hidup.
Psikiater dari Mindpath Health, Brian Zachariah, MD, memperingatkan bahwa obsesi terhadap standar ini dapat memicu penurunan kesehatan fisik dan mental yang signifikan. Ketika standar kurus dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan, anak berisiko mengalami tekanan psikologis berat.
Heather Rosen, psikolog sekaligus direktur program gangguan makan di Psychology Partners Group, menambahkan bahwa target tubuh yang tidak realistis menciptakan perasaan tidak mampu dalam diri remaja. Kondisi ini sering kali memicu rasa rendah diri yang berkepanjangan.
Alih-alih sekadar melarang penggunaan aplikasi, orang tua disarankan untuk membangun komunikasi terbuka. Strategi ini melibatkan rasa ingin tahu mengenai tren apa yang sedang diikuti anak serta alasan mereka tertarik dengan konten tersebut.
Pertanyaan seperti, Siapa yang mereka ikuti dan mengapa, menjadi pembuka dialog yang efektif. Hal ini membantu orang tua membedah bagaimana anak menafsirkan pesan-pesan yang mereka terima setiap hari di media sosial.
Perubahan perilaku anak juga harus dicermati secara saksama. Hannah Bishop, konselor profesional di lembaga Equip, mengungkapkan beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai oleh para orang tua.
Beberapa indikator tersebut meliputi kritik berlebihan terhadap penampilan fisik diri sendiri, kecenderungan membandingkan tubuh dengan orang lain, hingga mulai menarik diri dari aktivitas sosial. Selain itu, perubahan pola makan yang drastis juga patut diwaspadai sebagai sinyal peringatan dini.
Contoh perubahan perilaku ini mencakup penghindaran makanan tertentu, melewatkan waktu makan, atau penerapan aturan diet yang sangat ketat. Beberapa anak bahkan mungkin melakukan olahraga berlebihan sebagai upaya kompensasi terhadap kalori yang dikonsumsi.
Meskipun tanda-tanda tersebut tidak serta-merta memastikan adanya gangguan makan klinis, tetap saja menjadi alasan kuat bagi orang tua untuk segera berdiskusi. Penting untuk memulai percakapan tanpa melontarkan tuduhan atau mempermasalahkan bentuk tubuh mereka.
Zachariah menyarankan agar diskusi berfokus pada bagaimana perasaan anak setelah menonton video mengenai kesehatan dan kebugaran. Orang tua bisa mengajak anak mengevaluasi apakah rutinitas yang ditampilkan memang realistis atau sekadar konten tanpa dasar ilmiah.
Pendekatan kritis ini diharapkan mampu membekali anak dengan kemampuan literasi media yang lebih baik. Dengan demikian, mereka tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di platform digital.
Pada akhirnya, keteladanan orang tua di rumah memegang peranan krusial dalam membentuk citra tubuh anak. Komentar negatif mengenai tubuh sendiri di depan anak harus dihindari sepenuhnya.
Bishop menegaskan bahwa anak-anak cenderung meniru cara orang tua memandang kesehatan. Menghindari penilaian diri berdasarkan bentuk tubuh adalah langkah kecil namun sangat bermakna bagi perkembangan emosional anak di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor