Google Luncurkan Model AI Nano Banana 2.1 dengan Performa Lebih Tinggi

Google resmi memperkenalkan Nano Banana 2.1 sebagai iterasi terbaru dari model kecerdasan buatan mereka yang mampu mengubah teks menjadi gambar atau menyunting foto.
Teknologi ini mulai didistribusikan ke dalam aplikasi Gemini, fitur AI dalam Google Search, serta berbagai platform pendukung seperti Google Ads dan perangkat pengembang seperti Google AI Studio. Peluncuran ini menjadi langkah strategis raksasa teknologi tersebut dalam mempertahankan dominasi di tengah persaingan ketat kecerdasan buatan.
Model Nano Banana versi awal sempat mencuri perhatian dunia pada September 2025. Kemampuannya mengubah swafoto menjadi figur koleksi digital berhasil membawa Gemini menduduki peringkat pertama di toko aplikasi utama, sekaligus menggeser dominasi ChatGPT yang bertahan selama tiga tahun.
Keberhasilan tersebut turut berdampak positif pada performa finansial Alphabet, induk perusahaan Google, yang nilai pasarnya menembus angka USD 3 triliun (sekitar Rp47.000 triliun).
Pembaruan pada versi 2.1 membawa tiga peningkatan utama bagi para pengguna dan pengembang. Fokus utamanya terletak pada desain visual yang lebih matang, kemampuan penyuntingan berbasis masking yang lebih presisi, serta konsistensi subjek yang lebih baik saat dilakukan banyak perubahan.
Metode masking sendiri merupakan teknik penyuntingan di mana pengguna menandai area spesifik pada gambar, sehingga AI hanya mengubah bagian tersebut tanpa memengaruhi komposisi di sekitarnya. Fitur ini krusial bagi desainer grafis yang membutuhkan detail tinggi.
Dalam pengujian kualitas teks-ke-gambar, Nano Banana 2.1 berhasil mencatatkan skor 1.050 poin dalam sistem ELO, mengungguli pendahulunya yang berada di angka 990 poin. Sistem ELO adalah metrik yang digunakan untuk mengukur keunggulan relatif, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas output yang lebih baik menurut preferensi manusia.
Secara teknis, model ini mampu memproses hingga 14 gambar referensi secara bersamaan dengan kemampuan melacak empat karakter dan sepuluh objek. Output yang dihasilkan mencapai resolusi 4K dengan rasio aspek lebar hingga 8:1.
Pengembang kini memiliki kendali lebih luas atas model ini melalui pengaturan waktu komputasi atau durasi berpikir AI sebelum mulai menggambar. Pengguna juga dapat memerintahkan model untuk merujuk pada Google Search dan Google Image Search guna memastikan akurasi visual objek di dunia nyata.
Salah satu aspek menarik dari pembaruan ini adalah efisiensi biaya yang ditawarkan kepada para pengembang melalui API Google. Untuk satu gambar standar 1K, biaya yang dikenakan kini hanya USD 0,0336 (sekitar Rp528), atau setengah dari harga Nano Banana 2 yang mencapai USD 0,067 (sekitar Rp1.050).
Penurunan harga ini juga berlaku untuk gambar beresolusi 4K yang kini dibanderol sebesar USD 0,0756 (sekitar Rp1.190). Bahkan, untuk pemrosesan gambar dalam jumlah besar atau batch, Google memberikan diskon tambahan sebesar 50 persen.
Efisiensi ini membuat biaya produksi seribu gambar standar kini hanya sekitar USD 33,60 (sekitar Rp528.000). Langkah ini diprediksi akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk mengintegrasikan teknologi Google ke dalam aplikasi mereka masing-masing tanpa harus mengeluarkan modal besar.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor








![Kaitan Aneh Iklan Googlebook Henry Cavill dengan Insiden Kumis Justice League Justice League all over again; Henry Cavill’s mustache vanishes in new Googlebook promo [Video]](https://cdn.beritana.com/media/2026/10/justice-league-all-over-again-henry-cavills-mustache-vanishes-in-new-googleboo.webp)