Hiu Dusky Bukangi Berhasil Kembali ke Laut Usai Terjebak Sebulan di Kanal Korea

Seekor hiu dusky sepanjang tiga meter yang dikenal dengan sebutan Bukangi akhirnya kembali ke habitat aslinya di perairan lepas. Mamalia laut ini berhasil diarahkan keluar dari sebuah kanal pelabuhan di Korea Selatan setelah melalui proses evakuasi yang cukup panjang.
Peristiwa ini menarik perhatian masyarakat lokal dan para ahli biologi kelautan selama lebih dari satu bulan. Hiu tersebut terjebak di area kanal yang sempit, membuat navigasinya terganggu dan memicu kekhawatiran terkait kondisi kesehatannya.
Tim penyelamat sempat mengalami kesulitan dalam dua upaya awal untuk memandu hiu tersebut menuju laut lepas. Kondisi arus yang tidak menentu serta perilaku hiu yang terus berputar di area pelabuhan menghambat efektivitas evakuasi sebelumnya.
Kanal pelabuhan di Korea Selatan seringkali menjadi jebakan bagi satwa laut karena desain strukturnya yang menyerupai labirin beton. Struktur seperti ini memang dirancang untuk melindungi kapal dari gelombang besar, namun seringkali menyulitkan hewan laut yang tidak sengaja masuk saat mengejar mangsa.
Pada percobaan ketiga, tim penyelamat menggunakan metode pemandu suara dan koordinasi kapal yang lebih terukur. Mereka berhasil menggiring Bukangi perlahan keluar dari kanal menuju pintu keluar pelabuhan yang terhubung langsung ke laut terbuka.
Keberhasilan ini disambut positif oleh aktivis lingkungan setempat. Mereka menekankan bahwa intervensi manusia harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mencederai hewan tersebut selama proses evakuasi berlangsung.
Hiu dusky, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Carcharhinus obscurus, merupakan spesies yang biasanya hidup di perairan hangat dan tropis. Mereka dikenal sebagai perenang jarak jauh yang mampu bermigrasi dalam radius ribuan kilometer untuk mencari sumber makanan.
Kondisi hiu tersebut kini dilaporkan dalam keadaan stabil dan telah berenang menjauh dari garis pantai. Pemantauan berkala akan tetap dilakukan oleh otoritas maritim Korea Selatan untuk memastikan hiu itu tidak kembali terjebak di area yang dangkal atau tertutup.
Kasus Bukangi bukan satu-satunya insiden satwa liar yang terjebak di kawasan industri pelabuhan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Peningkatan aktivitas manusia di pesisir kerap berdampak pada jalur migrasi alami berbagai spesies laut di kawasan Asia Timur.
Para ahli menyarankan pemasangan jaring peringatan atau sistem akustik di titik-titik rawan kanal. Langkah preventif ini bertujuan untuk mencegah satwa besar masuk ke area berbahaya dan mengurangi risiko kematian akibat terdampar atau terjepit di infrastruktur buatan manusia.
Kembalinya Bukangi ke alam liar menjadi pembelajaran penting bagi pengelolaan pelabuhan yang ramah lingkungan. Keselarasan antara kebutuhan logistik maritim dan perlindungan biodiversitas menjadi tantangan yang harus dijawab di masa depan.
Edukasi terhadap nelayan dan kru kapal juga menjadi poin krusial agar mereka bisa segera melapor ketika melihat indikasi adanya hewan besar yang terjebak. Kecepatan respons sangat menentukan peluang bertahan hidup satwa yang tersesat di wilayah perairan yang tidak lazim bagi mereka.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor










