IHSG Rebound ke Level 5.000 Usai Aksi Buyback Saham dan Intervensi Pemerintah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menembus level psikologis 5.000 pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup tajam dalam tiga hari terakhir.
Data IDX Mobile pukul 09.01 WIB mencatat IHSG menguat 0,07 persen ke posisi 5.000,20. Meski indeks bergerak ke zona hijau, pergerakan saham individu masih tampak beragam dengan 200 saham menguat dan 394 lainnya terkoreksi.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar menjadi motor utama pemulihan indeks pagi ini. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan kenaikan 3,87 persen ke Rp3.490, disusul PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang melesat 5,08 persen ke Rp1.860 per lembar saham.
Penguatan ini hadir di tengah upaya kolaboratif antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta pemerintah untuk memulihkan kepercayaan investor. Stabilitas pasar saat ini menjadi prioritas utama guna merespons kekhawatiran global terkait transparansi bursa domestik.
Sebelumnya, IHSG sempat merosot akumulatif sebesar 15,93 persen dalam tiga hari perdagangan terakhir akibat isu peninjauan klasifikasi pasar dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market dari Emerging Market karena keraguan atas transparansi perdagangan.
Untuk merespons tantangan tersebut, BEI memperkenalkan kebijakan baru terkait High Shareholding Concentration (HSC). Saham yang masuk dalam daftar ini akan dikeluarkan dari perhitungan indeks untuk sementara waktu, guna mengurangi volatilitas yang dipicu oleh kepemilikan terkonsentrasi.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa kebijakan ini tidak bersifat menghukum emiten. Saham-saham terkait tetap dapat diperdagangkan secara normal di bursa meskipun tidak berkontribusi pada bobot IHSG untuk jangka waktu tertentu.
Langkah pembenahan tidak berhenti pada regulasi bursa, sejumlah emiten besar turut melakukan aksi pembelian kembali atau buyback saham. Kelompok usaha Prajogo Pangestu, termasuk PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), telah menyiapkan dana jumbo mencapai triliunan rupiah untuk menjaga harga saham mereka.
Secara total, kelompok usaha tersebut menyiapkan anggaran sekitar Rp4,5 triliun untuk aksi korporasi ini. Langkah serupa juga diambil oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Grup Sinarmas untuk memberikan sinyal positif kepada pasar.
Pemerintah pun turut mengambil peran aktif melalui Danantara. Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menegaskan kesiapan lembaga tersebut untuk menambah kepemilikan pada saham BUMN yang memiliki fundamental kuat guna menjaga stabilitas pasar modal nasional.
Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka meminta OJK untuk lebih tegas menindak praktik perdagangan terkoordinasi. OJK berkomitmen melakukan reformasi aturan agar tercipta ekosistem investasi yang adil bagi 32,7 juta investor ritel di Indonesia.
Keputusan final mengenai klasifikasi indeks oleh MSCI sendiri baru akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Hingga saat itu tiba, konsistensi regulator dalam menegakkan aturan transparansi menjadi ujian nyata bagi kredibilitas pasar modal tanah air.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor








