
Pemerintah Inggris secara resmi menuding Iran terlibat dalam ancaman keamanan yang terjadi di pangkalan udara RAF Fairford bulan lalu. Perdana Menteri Andy Burnham menyampaikan di hadapan parlemen bahwa terdapat indikasi kuat mengenai keterlibatan aktor negara asing dalam insiden tersebut.
RAF Fairford merupakan pangkalan udara di Inggris bagian selatan yang secara rutin digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat untuk menempatkan pesawat pengebom strategis seperti B-1 dan B-52. Lokasi ini dianggap strategis karena memiliki jangkauan tempur yang mampu mencapai wilayah Iran dengan cepat.
Pada 27 September, aparat keamanan menangkap lima warga negara Inggris di sekitar pangkalan udara tersebut atas dugaan tindak pidana terorisme dan kepemilikan bahan peledak. Penangkapan berlanjut beberapa hari kemudian seiring dengan pendalaman kasus yang dilakukan pihak kepolisian.
"Saya dapat mengonfirmasi penilaian kami bahwa aksi ini kemungkinan besar dikoordinasikan dari Iran, dan hampir pasti diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC," ujar Burnham dalam pidatonya di House of Commons.
Investigasi awal mengungkapkan bahwa meskipun tim penjinak bom dikerahkan ke lokasi, mereka tidak menemukan bahan peledak aktif di dalam kendaraan yang digunakan tersangka. Petugas justru menemukan zat pemicu api berupa bahan bakar minyak di dalam mobil tersebut.
Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, telah memanggil duta besar Iran untuk menyampaikan keberatan keras pemerintah Inggris atas insiden tersebut. Inggris menegaskan bahwa mereka tidak akan menoleransi segala bentuk serangan atau ancaman yang ditujukan terhadap kedaulatan di tanah mereka.
Sebagai respons, Inggris memberlakukan sanksi terhadap dua individu, yakni Ruhollah Bazghandi yang memimpin operasi kontra-intelijen IRGC, serta Shahram Ali Reza Tamarzadeh Jakki yang diduga memfasilitasi jaringan kriminal Zindashti. Sanksi ini mencakup pembekuan aset serta larangan bepergian bagi kedua individu tersebut.
Di sisi lain, kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa Duta Besar Ali Moussavi menolak semua tuduhan tersebut secara tegas. Iran menuntut pemerintah Inggris untuk menunjukkan bukti konkret jika memang memiliki dasar atas tuduhan yang dilemparkan kepada negaranya.
Menanggapi tensi ini, 29 negara termasuk anggota aliansi intelijen Five Eyes dan sejumlah negara NATO mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka mengecam penggunaan serangan kekerasan, sabotase, dan aktivitas hibrida yang dilakukan oleh Iran terhadap negara-negara mitra.
Pasca-insiden keamanan tersebut, pihak militer Amerika Serikat memutuskan menarik pesawat pengebom B-1 dari RAF Fairford. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan untuk menjaga aset strategis mereka dari potensi ancaman lanjutan di masa depan.
Pangkalan udara RAF Fairford sendiri memiliki sejarah panjang sejak Perang Dunia II sebagai titik operasional Sekutu. Saat ini, fasilitas tersebut tetap menjadi pilar penting bagi kehadiran militer Amerika Serikat di Eropa dalam menjaga stabilitas kawasan dari ancaman eksternal.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor
