
Amerika Serikat kini tengah menghadapi masa pemilihan umum untuk kursi Kongres dan jabatan gubernur negara bagian. Meski peran perempuan dalam panggung politik nasional terus meningkat, keterwakilan mereka di kursi kekuasaan masih tergolong minim jika dibandingkan dengan proporsi jumlah penduduk perempuan yang mencapai 51 persen.
Hingga saat ini, perempuan hanya mengisi sekitar 28,4 persen kursi di Kongres Amerika Serikat. Angka ini sebenarnya mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah Amerika, dengan total 152 perempuan yang duduk di kursi DPR dan Senat.
Kelly Dittmar, peneliti senior di Center for American Women and Politics dari Rutgers University, mengungkapkan adanya hambatan struktural yang menyulitkan pendatang baru. Sistem politik Amerika Serikat memiliki aturan dan proses yang cenderung memberikan keuntungan bagi petahana untuk terus menjabat selama puluhan tahun.
Selain masalah durasi masa jabatan, kebutuhan dana kampanye yang fantastis menjadi kendala besar bagi kandidat perempuan. Perempuan kerap kesulitan mengakses jejaring donor kaya yang sebagian besar masih didominasi oleh kalangan pria, baik dari sisi pemimpin partai maupun pengusaha besar.
Kesenjangan dukungan ini terlihat jelas pada perbedaan jumlah perwakilan antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Saat ini, Partai Demokrat memiliki lebih banyak kandidat perempuan, yakni 95 orang di DPR, sedangkan Partai Republik hanya memiliki 30 orang perwakilan perempuan.
Dittmar menilai infrastruktur pendukung bagi kandidat perempuan dalam Partai Republik tidak sekuat Partai Demokrat. Banyak organisasi yang fokus memberikan pelatihan serta pendanaan bagi perempuan lebih banyak berafiliasi dengan Demokrat atau organisasi nonpartisan.
Tantangan semakin berat untuk kursi Senat yang hanya melangsungkan pemilihan setiap enam tahun sekali. Minimnya kesempatan ini diperparah dengan tingginya biaya kampanye di tingkat negara bagian, yang sering kali tidak sebanding dengan kondisi finansial kandidat perempuan.
Namun, harapan akan sejarah baru tetap terbuka pada pemilihan mendatang. Salah satu kandidat dari Minnesota, Peggy Flanagan, berpotensi menjadi perempuan penduduk asli Amerika pertama yang duduk di Senat jika berhasil mengungguli rivalnya.
Sama halnya dengan pemilihan gubernur, beberapa kandidat perempuan kini berjuang untuk memecahkan rekor sebagai gubernur perempuan kulit hitam pertama. Salah satu persaingan ketat terjadi di Georgia, di mana kandidat dari Demokrat, Keisha Lance Bottoms, memiliki peluang besar untuk memenangkan posisi tersebut.
Persaingan di Georgia diprediksi menjadi pertarungan sengit dengan peluang kemenangan yang seimbang antara kandidat Demokrat dan Republik. Hasil pemilihan ini akan menjadi indikator penting bagi masa depan keterwakilan perempuan dalam jajaran eksekutif dan legislatif di Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor