Investor Greenfield Adukan Tata Kelola Safe Ecosystem ke Regulator Swiss

Investor Safe, Greenfield Capital, secara resmi telah mengajukan keluhan pengawasan kepada otoritas regulator yayasan di Swiss. Langkah ini diambil setelah upaya mereka untuk mendesak perubahan pada jajaran dewan direksi Safe Ecosystem Foundation menemui jalan buntu selama berbulan-bulan.
Jascha Samadi, mitra pendiri Greenfield, menuangkan keresahannya dalam surat terbuka kepada komunitas Safe pada Minggu lalu. Ia menegaskan bahwa perusahaannya merasa semakin khawatir terhadap kondisi internal Safe sejak awal tahun 2025.
Kekhawatiran utama Greenfield mencakup kinerja keuangan perusahaan yang dianggap tertinggal dari pasar secara luas. Selain itu, mereka menyoroti minimnya perwakilan independen di dalam jajaran dewan direksi yayasan tersebut.
ESA, atau Otoritas Pengawas Federal untuk Yayasan di Swiss, merupakan lembaga pemerintah yang memantau kepatuhan yayasan agar tetap beroperasi sesuai dengan tujuan pendiriannya. Hingga kini, pihak Safe Ecosystem Foundation mengaku belum menerima pemberitahuan resmi dari ESA terkait pengaduan tersebut.
Juru bicara yayasan, Samuel Akpan, menolak memberikan komentar lebih mendalam mengenai detail sengketa tata kelola ini. Pihaknya memilih untuk tidak menanggapi tuduhan spesifik yang dilontarkan oleh investor mereka di ranah publik.
Ketegangan ini terjadi di tengah ambisi besar Safe untuk mencapai titik impas dan melipatgandakan pendapatan mereka pada tahun 2026. Pada Februari lalu, proyek ini sempat melaporkan pendapatan tahunan mencapai USD 10 juta atau setara dengan Rp157 miliar.
Namun, angka pendapatan pada kuartal kedua sebesar USD 1,98 juta atau sekitar Rp31 miliar dianggap Greenfield sangat jauh dari target. Proyeksi pendapatan tahunan yang hanya berada di angka USD 8 juta dinilai gagal memenuhi harapan sebesar USD 20 juta untuk tahun depan.
Data yang dipaparkan oleh Greenfield menunjukkan bahwa posisi Safe dalam pasar aset kripto justru mengalami penurunan signifikan. Antara Januari 2024 hingga Agustus 2026, total nilai yang tersimpan dalam akun Safe merosot dari USD 66 miliar menjadi USD 30 miliar.
Angka tersebut merepresentasikan penurunan lebih dari 50 persen. Padahal di periode yang sama, sektor keuangan terdesentralisasi atau DeFi secara keseluruhan justru mencatat pertumbuhan nilai sebesar 40 persen.
Dominasi Safe dalam penggunaan stablecoin USDC juga mencatat tren negatif yang cukup tajam. Porsi Safe dalam peredaran USDC global menyusut drastis dari 12,8 persen menjadi hanya 2,5 persen dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Samadi menilai masalah ini berakar dari kurangnya anggota dewan independen yang memiliki pengalaman pengambilan keputusan yang matang. Ia juga menuding adanya potensi konflik kepentingan yang melibatkan anggota dewan seperti Stefan George dan Richard Meissner.
Keduanya disebut memiliki keterikatan bisnis dengan entitas yang mengembangkan serta mengoperasikan produk-produk Safe secara langsung. Greenfield kini meminta regulator Swiss untuk meninjau kembali struktur tata kelola tersebut.
Mereka berharap adanya tindakan korektif termasuk penggantian personel dan perekrutan anggota dewan baru dari pihak eksternal. Anggota baru tersebut diharapkan memiliki keahlian di bidang keuangan, manajemen risiko, serta strategi bisnis yang mumpuni untuk memperbaiki arah masa depan Safe.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










