Jannik Sinner Mundur dari US Open 2026, Cedera Lutut Jadi Penghalang Utama

Kabar mengejutkan datang dari dunia tenis profesional. Petenis peringkat satu dunia, Jannik Sinner, secara resmi mengumumkan penarikan dirinya dari turnamen US Open 2026 karena cedera lutut kanan yang belum pulih sepenuhnya.
Keputusan berat ini disampaikan Sinner setelah menjalani sesi latihan uji coba di Monte Carlo pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Sang atlet asal Italia itu memilih untuk tidak mengambil risiko lebih lanjut terhadap kondisi fisiknya.
Masalah pada lutut kanan tersebut telah menghantui Sinner sejak berakhirnya turnamen Wimbledon. Kondisi medis yang tak kunjung membaik ini juga membuatnya terpaksa melewatkan dua turnamen Masters 1000 sebelumnya di Montreal dan Cincinnati.
Baca Juga:
- Piala AFF 2026: Thailand Optimistis Bangkit usai Kalah dari Vietnam
- Sanksi MLS untuk Lionel Messi Akibat Konflik di Lapangan
- Duel Sengit Semifinal Kejuaraan Dunia 2026: Amri/Nita vs Feng/Huang
Meskipun mengumumkan pembatalan tampil di New York, Sinner tetap terlihat menguji kondisi fisiknya di lapangan Monte Carlo. Usai merampungkan sesi latihan, petenis berusia 25 tahun itu bahkan sempat menyapa dan memberikan tanda tangan kepada seorang penggemar muda.
Keputusan matang ini diambil Sinner demi menghindari risiko cedera yang lebih fatal. Terlebih, sang atlet mencatatkan rekor impresif 44 kemenangan dan hanya 3 kekalahan sepanjang musim 2026, yang menunjukkan intensitas penampilannya selama setahun terakhir.
Mundurnya Sinner ini secara langsung menghentikan upayanya mempertahankan gelar juara US Open yang berhasil diraihnya pada tahun 2024. Selain itu, ia juga batal mengulang pencapaian masuk babak final turnamen yang sama pada tahun 2025.
Mantan kapten Tim Davis Italia, Paolo Bertolucci, memberikan sorotan tajam terkait padatnya jadwal bertanding yang memicu cedera para atlet. Bertolucci menilai tuntutan fisik dalam olahraga tenis modern makin mendekati level ekstrem. “Sebelum berfokus pada Jannik Sinner, mari kita mulai dari beberapa bukti yang ada di depan mata semua orang,” kata Bertolucci.
Ia mencontohkan kondisi Jack Draper yang tidak bisa berpartisipasi di US Open, serta Holger Rune yang sudah absen selama berbulan-bulan. “Mereka adalah pemain muda yang sedang menanjak, tetapi harus absen,” imbuhnya.
Bertolucci menekankan bahwa hal ini harus membuat kita berpikir tentang bagaimana tenis telah berubah dari sudut pandang fisik. “Para lakon terpaksa menjalani latihan yang semakin stresif, fisik menjadi seperti karet gelang yang ditarik semakin kencang dari hari ke hari,” tegasnya.
Bertolucci menambahkan bahwa deretan penampilan mengesankan Sinner yang sukses menyapu bersih lima gelar Masters 1000 secara berturut-turut—mulai dari Indian Wells, Miami, Monte Carlo, Madrid, hingga Roma—tentu memberikan beban fisik yang sangat berat. “Tentu saja, rentetan pertandingan yang dilakukan Sinner tahun ini pasti meninggalkan beberapa dampak negatif,” ujarnya.
Risiko terjadinya cedera berulang dinilai dapat mengancam kelangsungan karier atlet muda tersebut untuk sisa musim kompetisi 2026 jika dipaksakan bertanding tanpa pemulihan total. “Seseorang tidak boleh tampil di level ini jika belum menyelesaikan masalah sebelumnya. Potensi kambuh akan sangat dramatis,” papar Bertolucci.
Menurut Bertolucci, cedera kambuhan bahkan bisa menyebabkan penutupan musim 2026 lebih awal bagi Sinner. “Jadi, Anda harus melangkah dengan sangat hati-hati, melakukan hal yang benar, dan tidak terburu-buru untuk kembali dengan harga berapa pun,” katanya.
“Ada garis sangat tipis yang tidak boleh dilanggar,” peringatnya.
Mantan petenis itu mengingatkan pentingnya evaluasi total terhadap penyusunan jadwal turnamen yang diikuti Sinner di masa mendatang guna menjaga ketahanan fisiknya. “Untuk masa depan, perlu ada refleksi tentang penjadwalan,” kata Bertolucci. Sinner baru saja genap berusia 25 tahun.
Secara realistis, Bertolucci melihat Sinner masih memiliki beberapa musim di tingkat yang sangat tinggi di depannya. Ia juga tidak akan kekurangan kesempatan untuk bermain berkali-kali di US Open dan turnamen besar lainnya. Namun, ia menegaskan, “fisiknya harus disesuaikan, dan baru muncul kembali setelah semuanya kembali ke tempatnya.”
Bertolucci menduga bahwa dampak jangka panjang dari semua turnamen yang dimainkan secara berturut-turut mungkin kini menagih bayaran pada fisik Sinner. “Itu bisa jadi alasan kendala di Paris dan penangguhan terakhir ini, meskipun kita tidak bisa mengetahuinya dengan pasti,” jelasnya.
Bertolucci menegaskan bahwa pengaturan kalender kompetisi memiliki bobot efektivitas yang setara dengan teknik pukulan di atas lapangan. “Refleksi yang harus dilakukan adalah ini, penjadwalan bernilai sama seperti sebuah pukulan,” katanya.
Ia menyarankan Sinner untuk memperbaiki dan menyesuaikan jadwalnya, seperti halnya ia telah memperbaiki pukulan-pukulan kuncinya, contohnya servis yang meningkat pesat selama bertahun-tahun. “Dia harus melakukan hal yang sama,” kata Bertolucci.
“Dan semua ini harus menjadi peringatan bagi setiap pemain yang terbawa oleh euforia kemenangan,” tutupnya.
Dari perspektif medis olahraga, penelitian menunjukkan bahwa tekanan mekanis terus-menerus akibat akselerasi, pengereman mendadak, dan perubahan arah pada permukaan lapangan tenis dapat mempercepat kelelahan jaringan sendi serta tendon. Kondisi ini sangat rawan menyebabkan cedera serius jika tidak ditangani dengan baik. Pemulihan total menjadi krusial untuk mencegah kerusakan struktural jangka panjang pada lutut.
Tim medis dan kepelatihan Sinner belum menentukan tanggal pasti kapan sang juara bertahan akan kembali bertanding. Target kembalinya Sinner diperkirakan bergeser ke tur Asia, yakni turnamen Beijing dan Shanghai, yang dijadwalkan pada akhir September 2026.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor











