
Jaringan uji Ethereum, Sepolia, baru saja mengaktifkan pembaruan sistem yang disebut Glamsterdam pada 6 Oktober lalu. Langkah ini membawa perubahan signifikan dengan menaikkan batas gas menjadi hampir 200 juta, angka yang melampaui tiga kali lipat dari kapasitas jaringan utama Ethereum saat ini yang berada di kisaran 60 juta.
Dalam ekosistem blockchain, gas berfungsi sebagai satuan ukur untuk menghitung beban komputasi yang diperlukan dalam setiap transaksi atau kontrak pintar. Batas gas sendiri bertindak sebagai pagar pembatas yang menentukan seberapa banyak aktivitas digital dapat dimuat ke dalam satu blok data agar jaringan tetap berjalan stabil.
Peningkatan menuju angka 200 juta tersebut telah dijadwalkan secara otomatis melalui commit pada epoch 353.024. Epoch merupakan penanda waktu dalam kalender Ethereum yang berdurasi 6,4 menit, dan implementasi ini dimulai tepat pada pukul 13.53 UTC.
Meskipun ruang kapasitas telah diperluas, observasi data pada 8 Oktober menunjukkan bahwa blok yang diproduksi hanya menggunakan sebagian kecil dari limit tersebut. Berdasarkan pantauan terhadap 25 blok berturut-turut di situs Etherscan, penggunaan gas rata-rata hanya mencapai 24 persen hingga 43 persen dari total batas yang tersedia.
Kapasitas yang lebih besar tidak serta-merta berarti jumlah transaksi akan melonjak tiga kali lipat secara instan. Sebaliknya, ruang tambahan ini berfungsi sebagai bantalan yang membantu menekan biaya transaksi agar tidak melambung tinggi ketika terjadi lonjakan penggunaan oleh banyak orang dalam waktu bersamaan.
Lonjakan trafik di jaringan sering kali menyebabkan fenomena persaingan antar pengguna yang ingin transaksi mereka lebih cepat diproses. Kondisi ini mirip dengan lelang di mana mereka yang berani membayar lebih mahal akan mendapatkan prioritas lebih tinggi untuk masuk ke dalam blok berikutnya.
Tantangan teknis muncul karena blok dengan ukuran yang lebih besar memberikan beban kerja ekstra bagi para validator. Validator adalah pihak yang mengamankan jaringan dengan menempatkan aset ETH sebagai jaminan guna memeriksa serta mengonfirmasi validitas setiap blok yang masuk ke dalam sistem.
Para peneliti di Ethereum Foundation sebelumnya sempat memberi peringatan bahwa batas di atas 40 juta berpotensi menyebabkan kegagalan propagasi data di seluruh jaringan. Oleh karena itu, pengembang melakukan kenaikan secara bertahap untuk memastikan sistem tetap tangguh.
Sebelumnya, pemungutan suara validator pada Februari 2025 telah menyetujui kenaikan limit dari 30 juta ke 32 juta. Angka tersebut terus meningkat hingga mencapai 60 juta melalui pembaruan sistem yang dikenal sebagai Fusaka pada 3 Desember 2025.
Pengembangan ini sejalan dengan peta jalan jangka panjang yang pernah dipaparkan oleh salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, pada bulan Juli lalu. Ia merencanakan perombakan besar terhadap hampir setiap komponen protokol dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Sepolia sendiri berstatus sebagai jaringan uji coba atau testnet yang tidak memiliki nilai ekonomi nyata pada tokennya. Lingkungan ini sengaja dibuat agar pengembang dapat melakukan eksperimen teknis maupun simulasi beban kerja tanpa berisiko menimbulkan kerugian finansial bagi pengguna.
Hingga saat ini, pengembang belum memberikan jadwal pasti untuk pembaruan serupa pada jaringan uji publik lainnya seperti Hoodi. Jaringan utama Ethereum pun sejauh ini masih mempertahankan batasan gas pada angka 60 juta sambil menunggu hasil evaluasi lebih lanjut dari implementasi di Sepolia.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor