Jika Fisik dan Harta Jadi Tolok Ukur Utama, Lantas Untuk Apa Kita Diberi Hati yang Bisa Merasa

Kamu duduk di sana, menatap layar ponsel, menunggu notifikasi yang mungkin tidak akan pernah datang dari orang yang kamu anggap segalanya.
Rasanya menyesakkan, bukan? Saat kamu sadar bahwa orang yang kamu perjuangkan ternyata lebih sibuk menghitung angka di rekening atau memoles penampilan di depan cermin, daripada menanyakan bagaimana kabarmu hari ini.
Wajar jika kamu merasa bodoh. Semua orang pernah berada di titik ini, saat logika kalah telak dengan perasaan yang kamu paksakan untuk tetap ada, padahal jelas kamu sedang diperlakukan seperti pajangan.
Hati Bukan Sekadar Alat Pompa
Tuhan menciptakan hati bukan hanya untuk memastikan darah tetap mengalir ke seluruh tubuh. Ada kapasitas lebih besar di sana, yaitu kemampuan untuk mengasihi tanpa harus sibuk menimbang nominal atau menilai proporsi wajah seseorang.
Masalahnya, kita sering lupa fungsi utama ini. Kita terlalu sibuk memasang standar yang dangkal, sehingga saat bertemu orang yang benar-benar tulus, kita justru melewatinya begitu saja hanya karena dia tidak terlihat mewah di mata orang lain.
Ini ironis. Kita menuntut untuk dicintai dengan tulus, tapi kita sendiri masih sibuk menyeleksi pasangan seperti sedang memilih barang di etalase toko. Hati yang seharusnya menjadi kompas, malah kamu kunci rapat-rapat.
Fisik Akan Layu oleh Waktu
Kamu mungkin merasa menang saat berhasil mendapatkan seseorang yang fisiknya sempurna atau hartanya melimpah. Tapi ingat, kecantikan itu punya masa kedaluwarsa, dan kekayaan bisa menguap secepat embun pagi.
Ketika semua atribut luar itu hilang, apa yang tersisa dari hubungan kalian? Jika dari awal fondasinya adalah nafsu untuk pamer atau sekadar mencari kenyamanan materi, kamu akan menemukan dirimu kesepian di tengah kemewahan.
Mencari seseorang dengan melihat hatinya adalah investasi jangka panjang yang paling masuk akal. Bukan berarti kamu harus hidup kekurangan, tapi sadarilah bahwa karakter dan cara dia memperlakukanmu jauh lebih berharga daripada apa yang dia kenakan atau seberapa tebal dompetnya.
Berhenti Menukar Damai dengan Gengsi
Mungkin sudah waktunya kamu berhenti mencoba memenangkan hati orang yang bahkan tidak tahu cara menghargai perasaanmu. Orang yang mencintai dengan nafsu akan sangat mudah meninggalkanmu saat dia merasa bosan atau menemukan yang lebih menarik di luar sana.
Bukan kamu yang kurang, bukan juga kamu yang tidak cukup. Hanya saja, dia memang belum sampai di tahap kedewasaan untuk mengerti bahwa hubungan itu tentang dua hati yang saling menjaga, bukan tentang siapa yang paling menonjol secara visual.
Lepaskan beban ekspektasi itu. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang melihatmu lebih dari sekadar fisik dan harta, seseorang yang mengerti bahwa di balik senyummu, ada hati yang perlu dihargai keberadaannya.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor












