Kala AI Mewarnai Panggung Politik Israel: Manipulasi Deepfake hingga Bot

Pemilu Israel tahun ini mencatatkan fenomena baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni masifnya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kampanye politik. Pengamat memperingatkan bahwa penyebaran deepfake, bot, serta berbagai kampanye pengaruh berbasis algoritma berisiko besar memengaruhi opini pemilih sebelum hari pemungutan suara tiba.
Salah satu contoh paling kontroversial muncul dalam sebuah video berdurasi 19 detik yang diunggah melalui akun X milik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Rekaman tersebut menampilkan kandidat perdana menteri, Gadi Eisenkot, yang seolah sedang berlari dan memeluk Mansour Abbas, seorang politikus Arab terkemuka dari partai Ra'am.
Video tersebut tampak direkayasa secara digital untuk mengeksploitasi sentimen anti-Arab yang menjadi salah satu narasi utama dalam kampanye Netanyahu. Padahal, Eisenkot adalah mantan kepala staf militer Israel yang saat ini tengah bersaing ketat dengan petahana dalam jajak pendapat.
Dampak dari konten manipulatif ini tidak main-main karena video tersebut telah ditonton lebih dari satu juta kali dan memicu kemarahan publik. Hal ini semakin sensitif mengingat putra Eisenkot gugur dalam perang Israel-Hamas pada 2023.
Berdasarkan data dari proyek riset Ze Be AI di Open University of Israel, hingga pertengahan Oktober, partai Likud pimpinan Netanyahu telah merilis lebih dari 1.800 konten berbasis AI. Jumlah tersebut mencakup sekitar seperempat dari seluruh materi media sosial partai yang dianalisis oleh para peneliti.
Menjelang hari pemungutan suara pada 27 Oktober, para ilmuwan politik melabeli ajang ini sebagai pemilu AI pertama di Israel. Partai politik kini mengerahkan teknologi untuk berbagai keperluan, mulai dari pembuatan video provokatif hingga pengoperasian robot telepon atau robocall yang mampu berinteraksi dengan pemilih secara luwes.
Peneliti media dari Open University of Israel, Anat Ben-David, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai penggunaan AI di titik strategis jelang pemilu. Menurutnya, teknologi ini dapat menciptakan kontroversi yang mampu menggeser hasil perolehan suara secara drastis.
Tim riset Ben-David telah memantau lebih dari 44.000 unggahan di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, X, dan TikTok. Mereka menemukan bahwa lebih dari 14 persen materi kampanye yang beredar sejak akhir Juli menggunakan elemen AI, baik itu berupa gambar, musik, hingga video deepfake utuh.
Meski Komite Pemilu Pusat Israel telah mengeluarkan aturan mewajibkan pelabelan pada setiap konten kampanye berbasis AI, penegakan hukum di lapangan masih sangat lemah. Israel belum memiliki undang-undang khusus mengenai AI maupun layanan digital yang komprehensif, sehingga celah manipulasi tetap terbuka lebar.
Beberapa politikus lain turut mengikuti tren ini, seperti Yair Golan dari Partai Demokrat yang menggunakan AI untuk mengubah pakaian dalam videonya secara instan. Di sisi lain, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir sempat dikecam keras oleh Jerman setelah membagikan video palsu yang menggambarkan warga Palestina di kamp konsentrasi.
Selain visual, teknologi robocall kini berevolusi menjadi alat kampanye yang sangat persuasif dan sulit dibedakan dengan manusia. Penggunaan bot untuk menciptakan akun-akun palsu yang mendukung tokoh politik tertentu juga menjadi masalah serius yang terus dipantau oleh kelompok pengawas seperti FakeReporter.
Kondisi ini menempatkan Israel sebagai laboratorium global dalam melihat bagaimana AI merombak mesin propaganda politik. Dengan antusiasme masyarakat terhadap teknologi yang tinggi, praktik ini diprediksi akan menjadi model baru dalam kontestasi demokrasi di berbagai negara di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












