Ketegangan Massimiliano Allegri dan Kevin De Bruyne Usai Napoli Tumbang

Napoli menelan pil pahit dalam laga kedua Liga Champions 2026/2027 setelah takluk 1-3 dari Villarreal pada Rabu dini hari WIB.
Kekalahan di markas sendiri ini tidak hanya merusak rekor poin Partenopei, tetapi juga memicu ketegangan di ruang ganti antara pelatih Massimiliano Allegri dan gelandang andalannya, Kevin De Bruyne.
Situasi memanas terlihat jelas di lorong pemain saat jeda babak pertama. Perbedaan visi mengenai peran taktis di lapangan menjadi pemicu utama perselisihan antara juru taktik asal Italia tersebut dengan pemain bintang asal Belgia itu.
Pertandingan sejatinya dimulai dengan optimisme tinggi bagi tuan rumah. Amir Rrahmani sempat membuka keunggulan Napoli yang membuat publik stadion bergemuruh.
Namun, keunggulan tersebut sirna akibat kesalahan koordinasi di lini belakang. Umpan buruk dari Matteo Politano dimanfaatkan Georges Mikautadze untuk menyamakan kedudukan, sebelum akhirnya Santiago Mourino membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Napoli yang mencoba bangkit justru semakin kehilangan keseimbangan dalam transisi permainan. Tani Oluwaseyi mencetak gol ketiga bagi Villarreal, memastikan tim tamu membawa pulang tiga poin penuh dari Italia.
Usai laga, Allegri memberikan penjelasan mengenai insiden dengan De Bruyne kepada Sky Sport Italia. Ia mengakui adanya kegagalan komunikasi terkait instruksi taktis di lapangan.
“Saya meminta De Bruyne untuk turun lebih ke belakang agar bisa mengatur aliran bola. Sementara itu, saya ingin McTominay bermain lebih maju karena ia memiliki determinasi serangan yang lebih baik,” ujar Allegri.
Namun, instruksi tersebut tidak berjalan sesuai rencana di lapangan. Allegri menyebut bahwa mereka tidak saling memahami posisi yang seharusnya dijalankan dalam skema tiga bek yang diterapkan malam itu.
Masalah ini sebenarnya bukan hal baru bagi Napoli. Sebelumnya, setelah kemenangan 3-0 atas Frosinone di liga domestik, sudah muncul perdebatan mengenai penempatan De Bruyne sebagai deep-lying playmaker atau pengatur serangan dari posisi dalam.
De Bruyne secara terbuka memang tidak menyukai peran tersebut karena merasa potensinya tidak maksimal. Ia lebih nyaman beroperasi di area yang lebih ofensif untuk memberikan umpan kunci atau melepaskan tembakan jarak jauh.
Kekalahan ini membuat Napoli berada di dasar klasemen sementara grup Liga Champions tanpa satu poin pun. Posisi mereka semakin terjepit setelah sebelumnya juga kalah 0-1 dari Arsenal.
Perubahan formasi menjadi tiga bek yang sempat dipuji kini justru dianggap sebagai kelemahan utama. Struktur pertahanan tersebut terbukti rentan terhadap kecepatan serangan balik lawan, terutama saat menghadapi transisi cepat seperti yang diperagakan Villarreal.
Tugas berat menanti Allegri untuk menyatukan visi dengan para pemainnya dalam waktu singkat. Jika keselarasan peran tidak segera ditemukan, Napoli berisiko gagal total di kompetisi Eropa musim ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor








