Kisah Francesco Totti: Peluang Ballon d'Or di Real Madrid dan Setia pada AS Roma
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3432304/original/040232300_1618731200-000_DV1711679__1_.jpg)
Legenda sepak bola Italia Francesco Totti mengungkapkan bahwa kariernya mungkin akan jauh berbeda jika ia menerima pinangan Real Madrid pada tahun 2004.
Kala itu, raksasa Spanyol tersebut sedang membangun proyek megabintang yang dikenal sebagai Los Galacticos. Totti mengakui kepindahan ke Madrid bisa saja membuahkan trofi Ballon d'Or bagi dirinya, mengingat materi pemain bertabur bintang yang dimiliki klub tersebut.
Namun, sang legenda memilih untuk tetap berseragam AS Roma hingga memutuskan gantung sepatu. Baginya, ikatan emosional dengan para pendukung dan status klub sebagai rumah sendiri jauh lebih berharga daripada gelar individu bergengsi.
Totti mengenang tawaran tersebut dalam sebuah wawancara dengan Corriere della Sera. Ia mengakui ada sedikit rasa penasaran mengenai apa yang akan terjadi seandainya ia bermain bersama nama-nama besar seperti David Beckham, Zinedine Zidane, Luis Figo, dan Ronaldo Nazario di Santiago Bernabeu.
Walaupun merasa ada peluang besar meraih segalanya di Madrid, Totti tidak menyesali pilihannya untuk bertahan di ibu kota Italia. Ia merasa cinta yang diberikan suporter Roma adalah kompensasi yang tidak ternilai bagi karier profesionalnya.
Sepanjang masa baktinya, Totti mencatatkan 786 penampilan di berbagai kompetisi dengan koleksi 250 gol hanya di Serie A. Angka tersebut mencerminkan betapa dominannya pengaruh sang kapten bagi Giallorossi, julukan untuk AS Roma yang identik dengan warna kebesaran kuning emas dan merah.
Bagi pendukung fanatik di tribun Curva, Totti bukan sekadar pemain, melainkan simbol loyalitas yang jarang ditemukan di dunia sepak bola modern. Ia mengaku sering merasakan dukungan tulus tersebut saat berinteraksi dengan warga di jalanan kota Roma.
Meski sudah lama pensiun, Totti mengakui rasa rindu pada atmosfer pertandingan masih sering muncul. Kenangan panjang di atas lapangan hijau tetap membekas dalam ingatannya hingga hari ini.
Loyalitas tersebut kembali diuji ketika ia berusia 48 tahun. Saat itu, dua klub Serie A yakni Como dan Genoa sempat melayangkan tawaran untuk membawanya kembali ke atas lapangan.
Totti menjelaskan bahwa secara fisik dan keinginan pribadi, ia sebenarnya masih ingin bermain pada akhir pekan. Namun, ia menyadari bahwa mengenakan seragam lain selain milik AS Roma akan mencederai prinsip yang ia pegang teguh seumur hidup.
Ia akhirnya menolak tawaran tersebut karena tidak ingin mengkhianati dedikasinya kepada satu klub. Baginya, memori indah dengan Roma harus terjaga tanpa noda seragam tim lain.
Keputusan untuk tetap setia menjadikan Totti salah satu sosok paling dihormati dalam sejarah sepak bola. Ia membuktikan bahwa warisan seorang pemain tidak selalu diukur dari jumlah trofi di lemari, melainkan dari kedalaman hati terhadap klub yang dibelanya.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503221/original/050506700_1771125464-kane.jpg)






