Kisah Rumah Industrial di Bandung: Wujud Cinta dan Kenangan Sang Pemilik

Sebuah rumah mungil seluas 36 meter persegi yang berdiri di atas lahan 100 meter persegi di Bandung menjadi sorotan publik karena menyimpan narasi emosional di balik proses pembangunannya.
Pemilik hunian, Irwan Permadi, membangun rumah berkonsep industrial tersebut secara mandiri bersama mendiang istrinya tanpa melibatkan arsitek maupun jasa kontraktor profesional sejak Juli 2022.
Irwan menceritakan bahwa inspirasi desain huniannya berasal dari kebiasaan mereka berdua yang gemar mengunjungi berbagai kedai kopi. Pasangan ini menerapkan konsep amati, tiru, dan modifikasi terhadap interior tempat kopi yang mereka kunjungi untuk kemudian diaplikasikan ke dalam rumah.
Pria berusia 36 tahun itu mengungkapkan bahwa setelah sang istri wafat, ia menambahkan sebuah area khusus yang disebut sebagai pojok persembahan. Ruang tersebut sengaja dibuat sebagai bentuk penghormatan dan memori atas perjalanan cinta yang telah mereka lalui bersama.
Secara arsitektural, Irwan memilih gaya industrial karena alasan kepraktisan dan estetika yang jujur. Ia menjelaskan bahwa instalasi listrik sengaja ditempatkan di luar dinding guna memudahkan modifikasi di masa depan, sementara penggunaan material ekspos mengurangi beban biaya pengecatan rutin.
Filosofi kejujuran menjadi landasan utama pembangunan hunian tersebut. Irwan membiarkan material bangunan mengalami perubahan alami, termasuk munculnya lumut atau perubahan warna dinding seiring berjalannya waktu sebagai simbol proses kehidupan.
Proses pembangunan berlangsung secara bertahap sejak pertengahan tahun 2022. Bangunan utama berhasil diselesaikan dalam waktu tiga bulan, kemudian dilanjutkan dengan perapian area taman belakang serta penambahan mezzanine setelah rumah tersebut mulai ditempati pada Maret 2023.
Unggahan mengenai kisah rumah ini di media sosial telah disaksikan lebih dari 542 ribu kali. Banyak warganet memberikan apresiasi atas dedikasi Irwan dalam merawat kenangan bersama mendiang istrinya melalui hunian yang ia bangun sendiri.
Bagi Irwan, rumah bukan sekadar tempat bernaung dari cuaca. Ia meyakini bahwa hunian ideal harus mampu mencerminkan jati diri pemiliknya sekaligus berfungsi sebagai ruang paling nyaman untuk pulang bagi setiap pasangan.
Ia berpesan agar pasangan suami istri sebaiknya menyesuaikan konsep rumah dengan kebutuhan nyata alih-alih hanya mengejar keinginan semata. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan suasana tenang dan harmonis di dalam rumah tinggal.
Hingga saat ini, rumah tersebut masih menjadi inspirasi bagi banyak orang yang sedang merencanakan pembangunan hunian di atas lahan terbatas. Irwan mengaku merasa puas karena hasil akhir bangunan benar-benar merepresentasikan mimpi dan ekspresi pribadi yang ia bangun bersama mendiang pasangannya.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor









