Jejak Dipa Nusantara Aidit di Malam Terakhir Sebelum Tragedi 30 September 1965

Jakarta pada Kamis malam, 30 September 1965, tampak tenang tanpa menyiratkan bahwa sejarah Indonesia akan segera berubah dalam hitungan jam.
Dipa Nusantara Aidit, Ketua Central Committee Partai Komunis Indonesia, berada di kediamannya sebelum sebuah mobil Jeep menjemputnya untuk pergi ke lokasi yang dirahasiakan. Peristiwa malam itu menjadi titik balik krusial yang menyeret namanya sebagai aktor utama dalam pusaran konflik politik yang berujung pada gugurnya sejumlah perwira tinggi militer.
Sejarawan Peter Kasenda dalam bukunya yang bertajuk Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI mencatat, Aidit sempat menerima tamu dari kalangan mahasiswa sebelum akhirnya dijemput oleh dua pria berseragam militer. Istri Aidit, dr. Soetanti, dilaporkan sempat menahan kepergian suaminya, namun permintaan itu tidak dihiraukan karena alasan kondisi darurat yang disampaikan para penjemput.
Mayor Soejono, sosok yang menjemput Aidit, nantinya memberikan keterangan di hadapan Mahkamah Militer Luar Biasa perihal rute perjalanan malam tersebut. Aidit dibawa menuju kawasan Salemba Tengah untuk menemui Syam Kamaruzaman, pimpinan Biro Khusus PKI yang bertugas membangun relasi rahasia dengan personel militer.
Biro Khusus tersebut berfungsi sebagai organ tertutup yang beroperasi di luar kendali pengurus besar partai guna menindaklanjuti isu kudeta oleh Dewan Jenderal. Pertemuan-pertemuan intensif telah dilakukan oleh kelompok ini sejak awal September, melibatkan sejumlah perwira progresif seperti Letkol Untung dan Kolonel A. Latief.
Menurut analisis sejarawan Antonie C.A. Dake dan Victor M. Fic, kehadiran Aidit di Salemba bertujuan memverifikasi kesiapan operasional gerakan tersebut. Aidit dilaporkan berkomunikasi dengan Mayjen Pranoto Reksosamodro serta menyusun draf Dekrit Dewan Revolusi yang akan diumumkan kepada publik setelah aksi berlangsung.
Upaya untuk menemui Presiden Soekarno di Halim Perdanakusuma sempat menjadi bagian dari rencana besar kelompok tersebut. Kegagalan pertemuan langsung memaksa mereka mengutus Brigjen Soepardjo untuk menyampaikan pesan terkait pembersihan jajaran pimpinan Angkatan Darat.
Catatan sejarah mengenai pergerakan Aidit setelah meninggalkan rumahnya masih memunculkan beragam versi di kalangan peneliti. Beberapa kesaksian menyebutkan rombongan sempat singgah di kawasan Kebayoran Baru dan Otista sebelum akhirnya menetap di Kompleks Perumahan Angkatan Udara di Pangkalan Halim Perdanakusuma.
Lokasi tersebut, yang dikenal sebagai Cenko II, menjadi pusat komando bagi pergerakan yang terjadi keesokan harinya. Aidit kemudian dilaporkan bertolak menuju Yogyakarta pada 2 Oktober 1965, meninggalkan ibu kota yang segera terseret dalam periode pergolakan politik paling kelam bagi bangsa ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









