Konsumen Nilai Ponsel Terbaru Xiaomi Terlalu Mahal

Jajak pendapat terkini menunjukkan mayoritas calon konsumen menilai seri ponsel terbaru Xiaomi, Redmi Note 17 Pro Max dan Pro, dipatok terlalu tinggi. Kenaikan harga yang signifikan dibandingkan generasi sebelumnya, Redmi Note 15, memaksa para calon pembeli untuk mengalihkan pandangan ke perangkat lain di segmen ponsel kelas menengah.
Survei ini digelar sepekan setelah Xiaomi merilis lini produk tersebut. Hasilnya kontras dengan respons positif yang pernah diterima Redmi Note 15 tahun lalu, menurut laporan dari Telset.
Mayoritas responden secara terang-terangan melabeli Redmi Note 17 Pro Max sebagai produk dengan harga selangit. Varian Pro sendiri bahkan mendapatkan persepsi negatif yang lebih buruk. Namun, menariknya, sebagian konsumen yang ragu-ragu menyatakan preferensi terhadap varian Pro Max jika dipaksa memilih antara keduanya.
Peningkatan kapasitas baterai menjadi 9.210 mAh untuk pasar Eropa dan 10.000 mAh di India pada Redmi Note 17 Pro Max rupanya belum cukup untuk meyakinkan konsumen. Langkah penyesuaian ini dinilai gagal menutupi hilangnya sensor kamera 200 megapiksel yang menjadi daya tarik utama pada model sebelumnya. Ini menjadi poin penting bagi sebagian pengguna yang mengutamakan kualitas fotografi.
Penggunaan chipset Snapdragon 6 Gen 5 pada perangkat yang dibanderol seharga €600 (sekitar Rp10,2 juta) atau £430 (sekitar Rp8,5 juta) tersebut juga menuai kritik tajam. Situasi ini mendorong sejumlah konsumen untuk mempertimbangkan kembali lini ponsel Poco yang diketahui menawarkan spesifikasi lebih mumpuni dengan harga yang bersaing di kisaran serupa.
Sektor penyimpanan daya dan memori juga tak luput dari sorotan. Kecepatan transfer data pada sebagian besar varian masih menggunakan standar UFS 3.1. Lebih lanjut, varian termurah dengan kapasitas 128 GB bahkan masih mengandalkan UFS 2.2. Kapasitas RAM untuk pasar Eropa turut dibatasi hanya 8 GB, baik untuk opsi penyimpanan 256 GB maupun 512 GB. Hal ini berpotensi membatasi performa multitasking bagi pengguna yang membutuhkan lebih.
Di pasar Inggris, varian 8 GB RAM dengan penyimpanan 256 GB dibanderol £430 (sekitar Rp8,5 juta). Sementara itu, model dengan kapasitas penyimpanan 512 GB ditawarkan seharga £480 (sekitar Rp9,5 juta). Di Jerman, penawaran upgrade kapasitas penyimpanan gratis untuk model 512 GB tidak serta-merta menaikkan harga, tetap mempertahankan banderol awal di angka €600 (sekitar Rp10,2 juta).
Redmi Note 17 Pro sendiri mencatat hasil jajak pendapat yang lebih buruk, terutama karena penggunaan chipset Snapdragon 6s Gen 4. Model dasar dengan kapasitas penyimpanan 256 GB hanya dibekali RAM 6 GB. Konfigurasi ini dinilai kurang memadai untuk sebuah ponsel yang dirilis pada tahun 2026 dan dibanderol seharga €400 (sekitar Rp6,8 juta) atau £360 (sekitar Rp7,1 juta).
Perlu dicatat, variasi spesifikasi juga berlaku untuk pasar India. Redmi Note 17 Pro Max hadir dalam pilihan RAM 12 GB, namun tanpa opsi penyimpanan 512 GB. Varian 8 GB RAM dengan penyimpanan 256 GB dibanderol ₹50.000 (sekitar Rp9,5 juta), sementara versi 12 GB RAM dengan 256 GB penyimpanan dilepas seharga ₹56.000 (sekitar Rp10,6 juta).
Sementara itu, Redmi Note 17 Pro di India dibekali RAM 8 GB. Pilihan penyimpanannya meliputi 128 GB seharga ₹37.000 (sekitar Rp7 juta) dan 256 GB seharga ₹40.000 (sekitar Rp7,5 juta), tanpa adanya opsi penyimpanan 512 GB.
Hasil survei ini secara jelas mengindikasikan bahwa peningkatan kapasitas baterai saja tidak cukup untuk menutupi persepsi penurunan fitur jika dibandingkan dengan lini produk sebelumnya. Tanpa skema diskon yang menarik atau penyesuaian harga yang signifikan, kedua model ini berhadapan dengan risiko kehilangan daya saing di tengah lanskap pasar smartphone kelas menengah yang sangat kompetitif.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor








