Krisis BBM Rusia Memanas Akibat Serangan Ukraina, Putin Tertekan?

Krisis bahan bakar Rusia semakin memburuk di berbagai wilayah, termasuk Moskow, setelah serangan Ukraina menargetkan kilang minyak negara tersebut. Situasi ini memicu pertanyaan besar mengenai potensi tekanan publik terhadap Kremlin dan dampaknya pada kelanjutan perang Ukraina.
Menurut laporan Reuters, setidaknya 30 wilayah kini terdampak, dengan ibu kota dan sekitarnya mengalami kelangkaan parah yang terlihat dari unggahan media sosial. Jaringan pom bensin besar seperti Gazprom Neft dan Tatneft bahkan telah membatasi penjualan bahan bakar di Moskow. Oleg Grigorenko, pemimpin redaksi portal media independen 7x7, menyatakan bahwa "tidak bisa dikatakan tidak ada bahan bakar, tetapi jelas ada krisis."
Kelangkaan ini bukan sekadar masalah pribadi; sektor ekonomi turut terpukul. Grigorenko melaporkan, sopir taksi, layanan kurir, dan industri konstruksi mulai kehilangan pendapatan karena rantai pasokan mereka sangat bergantung pada bahan bakar. Warga juga harus antre berjam-jam di pom bensin wilayah Krasnodar selatan, meskipun otoritas menyalahkan peningkatan permintaan liburan.
Baca Juga:
- Peta Jalan Perdamaian Kongo Timur: Harapan di Tengah Ujian Serius
- Paradoks Jet Fuel Nigeria: Eropa Aman, Maskapai Lokal Terancam
- Kesehatan Raja Harald V Norwegia Memburuk, Putra Mahkota Haakon Ambil Alih Tugas Kerajaan
Agen properti Igor Zakharchenko dari Sochi menulis di Instagram tentang "musim panas yang bencana" di tengah kelangkaan gas. Ekonom Nikolai Korzhenevsky menyoroti memburuknya kualitas bahan bakar, yang menyebabkan kerusakan mesin mobil dan antrean bengkel berbulan-bulan. Ia melihat masalah ini sebagai awal dari krisis ekonomi dan sistemik yang lebih besar bagi Rusia.
Korzhenevsky memprediksi produksi minyak Rusia dapat terus menurun drastis, menuju kondisi seperti Venezuela dengan pendapatan nasional yang terus merosot. Upaya pemerintah untuk mengimpor bahan bakar dari India atau Tiongkok dinilai tidak realistis oleh jurnalis bisnis Vyacheslav Shiryaev. Ia menyebut mustahil menjamin pasokan harian 200.000 ton bahan bakar yang dibutuhkan Rusia.
Igor Lipsits, seorang ekonom dan kritikus Kremlin, mengamati adanya sistem distribusi bahan bakar khusus bagi elit, mirip dengan keruntuhan Uni Soviet, yang memicu kemarahan publik. Situasi ini, ditambah potensi serangan udara lanjutan pada kilang, dapat menimbulkan kekacauan total. Shiryaev berpendapat serangan intensif Ukraina dapat melumpuhkan ekonomi Rusia dan mempercepat berakhirnya perang dalam hitungan minggu.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor










