KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kyrgyzstan Tunjukkan Dominasi Pengaruh Xi Jinping

Konferensi tingkat tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Kyrgyzstan baru saja berakhir.
Pertemuan selama dua hari tersebut menegaskan batas efektivitas sanksi ekonomi yang selama ini diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap beberapa negara anggota. Presidensi Tiongkok di bawah Xi Jinping memanfaatkan momentum ini untuk mempererat hubungan diplomatik dengan Rusia, India, dan Iran.
Dinamika geopolitik yang tersaji dalam forum ini mencerminkan perubahan tatanan dunia yang kini cenderung multipolar. Perang pengaruh yang terjadi secara global justru memberi ruang bagi Tiongkok untuk memperluas jangkauan kerja sama ekonominya.
Rusia, yang saat ini menghadapi tekanan sanksi Barat akibat konflik di Ukraina, semakin bergantung pada kemitraan strategis dengan Beijing untuk menjaga stabilitas ekonomi domestiknya. Sementara itu, Iran memandang forum SCO sebagai gerbang utama untuk menembus isolasi internasional yang membatasi akses keuangan negara tersebut.
Bagi India, keterlibatan aktif dalam organisasi ini menjadi upaya penyeimbang kekuatan di kawasan Asia yang kompetitif. Meski memiliki perbedaan kepentingan di beberapa isu perbatasan, New Delhi tetap melihat nilai pragmatis dalam memperkuat dialog dengan blok yang didominasi Tiongkok dan Rusia ini.
Xi Jinping secara konsisten menawarkan narasi ketahanan ekonomi sebagai alternatif dari sistem keuangan global yang didominasi dolar AS. Strategi ini bukan sekadar retorika, melainkan upaya konkret untuk menciptakan jejaring perdagangan yang kebal terhadap tekanan sanksi pihak eksternal.
Organisasi Kerja Sama Shanghai atau SCO sendiri merupakan aliansi politik, ekonomi, dan keamanan antar-pemerintah yang mencakup sebagian besar wilayah Eurasia. Dibentuk pada 2001, organisasi ini awalnya berfokus pada kerja sama kontra-terorisme dan stabilitas regional di Asia Tengah.
Kini, SCO telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan dengan populasi mencakup hampir separuh dunia. Integrasi lebih dalam antaranggota dapat mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang dipimpin negara-negara Barat.
Pakar geopolitik mencatat bahwa keberhasilan Tiongkok mengonsolidasikan blok ini merupakan indikasi nyata bahwa pengaruh Barat mulai tertantang secara terbuka. Kerjasama dalam sistem pembayaran antarnegara anggota menjadi salah satu poin diskusi yang cukup intensif selama pertemuan di Kyrgyzstan.
Langkah tersebut diprediksi akan menjadi tantangan besar bagi dominasi mata uang dolar dalam transaksi internasional di masa depan. Meskipun implementasi penuh membutuhkan waktu panjang, arah kebijakan tersebut sudah mulai terbaca jelas oleh para pengamat pasar modal global.
Tiongkok kini berdiri di posisi yang sangat strategis sebagai mediator dan pemimpin di dalam organisasi tersebut. Xi Jinping berhasil mengubah tantangan perang dagang menjadi peluang untuk memperkuat posisi tawarnya di hadapan komunitas internasional.
Dengan berakhirnya pertemuan di Kyrgyzstan, peta kekuatan ekonomi dunia tampak semakin terpolarisasi. Fokus dunia kini beralih pada bagaimana negara-negara lain merespons blok yang semakin solid ini dalam menata kembali arsitektur ekonomi global.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor









