
Peningkatan hashrate Bitcoin kini menjadi sorotan pelaku pasar global sebagai indikator penting keterlibatan institusi keuangan tradisional.
CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, menyebut tren kenaikan ini sebagai sinyal bullish tidak langsung yang mencerminkan kepercayaan investor institusi terhadap fundamental aset kripto tersebut. Kondisi ini didorong oleh kembalinya para penambang publik yang memperoleh suntikan modal dari perusahaan keuangan besar.
Hashrate merupakan satuan yang mengukur total daya komputasi dalam jaringan blockchain untuk melakukan verifikasi transaksi dan penambangan. Secara teknis, semakin tinggi angka hashrate, maka keamanan jaringan Bitcoin menjadi lebih kuat karena membutuhkan energi komputasi yang masif untuk menembus sistem.
Data dari CryptoQuant menunjukkan pemulihan hashrate Bitcoin mencapai sekitar 45 persen dari titik terendah pada musim panas lalu. Angka tersebut melonjak dari kisaran 726 exahashes per detik pada Juli menjadi sekitar 1.050 exahashes per detik pada Rabu kemarin.
Walaupun menunjukkan pemulihan signifikan, angka tersebut belum melampaui puncak tertingginya di level 1.305 exahashes per detik yang tercatat pada Oktober 2025. Saat itu, harga Bitcoin sempat menyentuh angka di atas USD 111.000 atau sekitar Rp1,7 miliar.
Pergerakan ini sejalan dengan ekspansi kapasitas yang dilakukan perusahaan tambang publik, salah satunya NIP Group yang terdaftar di bursa Nasdaq. Mereka baru saja mengumumkan kesepakatan akuisisi perangkat keras penambangan dengan kapasitas 4,47 exahashes per detik guna memperbesar produksi Bitcoin mereka.
Peningkatan kapasitas ini menjadi krusial di tengah fluktuasi pasar saham Amerika Serikat yang sedang tertekan. Pada perdagangan Rabu, sejumlah saham perusahaan penambang besar seperti TeraWulf, Core Scientific, dan Cipher Mining mengalami koreksi harga sekitar 12 persen.
Kondisi pasar saham yang lesu tersebut dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat yang berada di atas ekspektasi pasar. Investor kini cenderung berhati-hati, namun tetap memantau fundamental jangka panjang Bitcoin sebagai penyimpan nilai yang didukung oleh keamanan jaringan yang terus menguat.
Bagi investor ritel di Indonesia, fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem penambangan Bitcoin telah bertransformasi menjadi industri berskala besar. Keterlibatan institusi keuangan tradisional menandakan adanya validasi pasar yang lebih dalam terhadap masa depan aset kripto di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor
