Amerika Serikat Blokir DeepSeek, Hubungan Kripto Asia dan Swiss Semakin Erat

Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keamanan Dalam Negeri resmi mengeluarkan instruksi penghapusan produk DeepSeek dari seluruh sistem teknologi informasi badan sipil federal. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran mendalam mengenai potensi kebocoran data sensitif warga negara dan program federal kepada pihak asing.
Perintah yang diterbitkan pada hari Senin tersebut mencakup seluruh afiliasi DeepSeek serta produk pihak ketiga yang dikembangkan dengan implementasi perangkat lunak serupa. Lembaga pemerintah kini dilarang keras melakukan pembelian produk baru yang berkaitan dengan teknologi tersebut untuk meminimalisir risiko keamanan nasional yang dianggap semakin nyata.
Kebijakan restriktif ini melengkapi upaya Departemen Keuangan Amerika Serikat dalam mengawasi investasi pada kecerdasan buatan dan semikonduktor berisiko tinggi. Aturan ini memperluas cakupan program keamanan investasi luar negeri yang menyasar rival geopolitik termasuk Rusia, Iran, Korea Utara, dan Kuba.
Di sisi lain, dinamika industri aset digital di Asia justru menunjukkan tren kolaborasi yang berbeda melalui kemitraan strategis dengan institusi keuangan global. Perusahaan asal Singapura, BIT Asset Management, baru saja meluncurkan bursa efek atau ETF Bitcoin spot pertama di Swiss yang juga menjadi satu-satunya instrumen investasi serupa di kawasan Eropa.
Hubungan antara Asia dan Swiss semakin diperkuat setelah Presiden Swiss Guy Parmelin mengajukan proposal kerja sama erat antara pusat inovasi Crypto Valley di Swiss dengan ekosistem teknologi di Vietnam. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan teknologi blockchain, kecerdasan buatan, hingga komputasi kuantum sebagai bagian dari perjanjian perdagangan bebas baru.
Sementara itu, sektor perbankan Korea Selatan mulai mengambil langkah konkret dalam pemanfaatan mata uang kripto untuk transaksi lintas batas. Shinhan Card menjalin kerja sama dengan SBI VC Trade asal Jepang untuk melakukan uji coba pembayaran menggunakan stablecoin yen yang ditujukan bagi para wisatawan serta pelaku perdagangan internasional.
Transformasi digital ini juga merambah ke Malaysia yang baru saja meluncurkan platform berbasis buku besar terdistribusi untuk penerbitan obligasi tokenisasi. Bank Negara Malaysia mengintegrasikan catatan sekuritas digital tersebut dengan sistem pembayaran yang beroperasi selama 24 jam penuh untuk mendukung efisiensi pasar modal.
Di Thailand, pihak berwenang menangkap seorang pria berkewarganegaraan China yang terlibat dalam jaringan kejahatan internasional dan pencucian uang melalui berbagai akun mata uang kripto. Penangkapan tersebut menyoroti pengawasan ketat terhadap penggunaan aset digital untuk aktivitas ilegal yang nilai transaksinya mencapai 500 juta yuan atau sekitar Rp1,1 triliun.
Terakhir, pemerintah kota Da Nang di Vietnam mulai menguji coba lingkungan terbatas atau sandbox untuk adopsi aplikasi berbasis kripto di sektor pariwisata. Inisiatif ini dipandang sebagai upaya strategis untuk menangkap peluang dari lonjakan kunjungan wisatawan yang mencapai 15,9 juta orang selama sembilan bulan pertama tahun 2026.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor










