
Dunia sepak bola internasional dikejutkan dengan langkah berani Ramon Vega yang menyatakan siap menantang Gianni Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2027.
Mantan bek tim nasional Swiss yang pernah membela Tottenham Hotspur tersebut menjadi kandidat pertama yang secara terbuka mendeklarasikan niatnya melawan sang petahana. Ambisi Vega bukan kali pertama muncul, sebab ia pernah mempertimbangkan pencalonan serupa pada tahun 2015 dan 2022 namun terkendala dukungan.
Agar dapat masuk ke dalam daftar kandidat resmi, Vega diwajibkan memenuhi syarat administratif berupa dukungan minimal dari lima federasi anggota FIFA dari total 211 negara. Tantangan ini cukup berat mengingat kekuatan basis politik Infantino yang telah memimpin organisasi sepak bola dunia tersebut sejak tahun 2016.
Setelah gantung sepatu dari dunia sepak bola, pria berusia 55 tahun ini beralih profesi menjadi pebisnis di bidang keuangan. Pengalaman profesional di dunia finansial inilah yang ia klaim sebagai modal utama untuk membenahi tata kelola FIFA yang ia nilai sedang berada dalam kondisi kritis.
Vega secara tegas mengkritik kepemimpinan saat ini yang dianggapnya telah mengikis kepercayaan publik serta merusak integritas organisasi. Ia menyoroti lemahnya tata kelola FIFA yang berujung pada perpecahan di antara keluarga besar sepak bola dunia.
Dalam dokumen pencalonannya, ia menggambarkan situasi FIFA saat ini layaknya pasien yang berada di unit gawat darurat. Ia berpendapat bahwa perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar polesan kosmetik, melainkan reformasi mendasar pada struktur organisasi demi memulihkan kredibilitas yang hilang.
Posisi Gianni Infantino sendiri sebenarnya tengah berada di bawah tekanan besar, terutama setelah adanya desakan dari UEFA agar dirinya mundur. Selain itu, kontroversi terkait pembatalan proyek FIFA Forward Enterprise turut menambah beban bagi presiden berdarah Italia-Swiss tersebut.
Pengamat sepak bola dari The Athletic, Matt Slater, menilai bahwa meski Vega memiliki kualifikasi personal yang mumpuni seperti penguasaan enam bahasa dan latar belakang karier yang beragam, ia kekurangan jaringan politik yang masif. Membangun pengaruh di tingkat konfederasi adalah hambatan utama yang harus ia lalui jika ingin melangkah jauh dalam kompetisi ini.
Slater menjelaskan bahwa profil Vega sebenarnya memiliki kemiripan dengan latar belakang para pemimpin FIFA sebelumnya. Namun, minimnya basis dukungan yang mengakar membuat langkahnya diprediksi akan menemui kesulitan besar untuk menggeser dominasi sang petahana yang belum terkalahkan sejak 2016.
Hingga saat ini, belum ada tokoh lain yang berani mengambil langkah serupa dengan Vega untuk bersaing memperebutkan kursi panas tersebut. Pemilihan tahun 2027 diprediksi tetap menjadi ajang yang sangat bergantung pada peta kekuatan dukungan federasi di seluruh dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor