Margaret Papandreou, Mantan Ibu Negara Yunani Pejuang Hak Perempuan Wafat

Mantan Ibu Negara Yunani Margaret Papandreou wafat pada usia 102 tahun di Athena, Yunani. Sosok perempuan kelahiran Amerika Serikat ini dikenal luas berkat peran besarnya dalam mereformasi hukum keluarga dan memperjuangkan hak-hak perempuan di negara tersebut.
Pihak keluarga mengonfirmasi bahwa beliau mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang di kediamannya pada hari Minggu waktu setempat.
Margaret merupakan istri dari mendiang Perdana Menteri Andreas Papandreou, tokoh sosialis legendaris yang memimpin pemerintahan Yunani selama dua periode berbeda. Pasangan ini pertama kali bertemu di Universitas Minnesota, Amerika Serikat, tempat Andreas mengajar ilmu ekonomi setelah melarikan diri dari rezim diktator Yunani. Pernikahan mereka yang berlangsung selama hampir empat dekade melahirkan empat anak, termasuk George Papandreou yang kelak menjabat sebagai Perdana Menteri Yunani pada periode 2009 hingga 2011.
Kehadiran Margaret di panggung politik Athena membawa angin segar bagi gerakan kesetaraan gender yang saat itu masih sangat terbelakang. Ia menolak peran tradisional sebagai ibu negara yang pasif dan memilih untuk mendirikan Persatuan Perempuan Yunani pada tahun 1976.
Melalui organisasi ini, ia mengonsolidasikan kekuatan akar rumput untuk menuntut perubahan konstitusi secara radikal.
Upaya gigih tersebut membuahkan hasil luar biasa melalui reformasi hukum keluarga nasional pada tahun 1983. Undang-undang baru itu menghapus sistem mas kawin yang selama berabad-abad membebani keluarga pengantin perempuan secara finansial. Reformasi tersebut juga memperkenalkan konsep perceraian atas kesepakatan bersama serta memberikan hak asuh anak yang setara bagi kaum ibu.
Keberhasilan terbesar berikutnya tercatat pada tahun 1986 ketika pemerintah Yunani meresmikan undang-undang yang melegalkan prosedur aborsi medis. Regulasi ini merupakan lompatan besar yang memicu perdebatan sengit di tingkat nasional kala itu.
Institusi Gereja Ortodoks Yunani yang sangat berpengaruh menentang keras langkah liberal tersebut dan melancarkan protes masif.
Menghadapi tekanan religius dan sosial yang begitu kuat, Margaret tetap bergeming memimpin kampanye publik demi hak reproduksi perempuan. Ia berargumen bahwa kesehatan reproduksi yang aman adalah bagian mendasar dari hak asasi manusia yang mendesak untuk dilindungi negara. Kegigihan inilah yang membuatnya dihormati sekaligus disegani oleh lawan-lawan politiknya di parlemen.
Lahir dengan nama Margaret Chant di Oak Park, Illinois, pada 30 September 1922, ia tumbuh di tengah iklim demokrasi Amerika Serikat yang dinamis. Pengalaman masa mudanya tersebut ia terapkan dengan sangat baik guna membantu modernisasi sistem sosial politik Yunani yang saat itu baru lepas dari junta militer.
Beberapa analis politik menyebutnya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam transisi demokrasi Yunani modern pasca-perang.
Dedikasinya membuktikan bahwa diplomasi informal dari dalam istana mampu memicu revolusi sosial yang bertahan melintasi generasi. Kepergian sang pelopor meninggalkan duka mendalam bagi publik yang merindukan sosok berani. Warisan kebebasan tersebut kini dinikmati oleh jutaan perempuan modern di Yunani.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor










