Mirza Fakhrul Islam Alamgir Diprediksi Menangi Pemilihan Presiden Bangladesh

Parlemen Bangladesh bersiap untuk memilih presiden baru pada Kamis ini, dengan Mirza Fakhrul Islam Alamgir dari Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) sangat diunggulkan untuk memenangkan posisi tersebut.
Alamgir, seorang politisi veteran, diperkirakan akan mengamankan jabatan presiden yang sebagian besar bersifat seremonial, berkat mayoritas lebih dari dua pertiga kursi yang dikuasai partainya di parlemen.
Dominasi suara BNP membuat peluang Oli Ahmed, seorang purnawirawan tentara yang kini menjadi politisi dari aliansi oposisi pimpinan Jamaat-e-Islami, sangat kecil untuk meraih kemenangan. Pemungutan suara oleh para anggota parlemen dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00 waktu setempat, atau pukul 08.00 UTC.
Proses pemilihan ini menyusul pengunduran diri mantan presiden Mohammed Shahabuddin pada Juli tahun lalu, dengan alasan masalah kesehatan. Shahabuddin, yang dikenal sebagai sekutu dekat Sheikh Hasina, telah mengakhiri masa jabatannya lebih awal setelah Hasina digulingkan dari posisi Perdana Menteri pada tahun 2024.
Pada Februari lalu, BNP yang dipimpin oleh Perdana Menteri Tarique Rahman meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum pertama sejak Hasina digulingkan. Kemenangan tersebut semakin mengukuhkan dominasi partai tersebut dan memberikan legitimasi kuat bagi rencana politik mereka.
Partai yang berkuasa ini diharapkan akan menggunakan mayoritas legislatifnya untuk menunjuk Alamgir, politikus berusia 78 tahun tersebut, sebagai pemegang jabatan kepresidenan yang tugas utamanya bersifat simbolis.
"Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjadi presiden, ini adalah anugerah tak terbatas dari partai dan karunia Allah Yang Mahakuasa," kata Alamgir kepada wartawan pada hari Selasa, seperti dikutip dari kantor berita pemerintah BSS. Ia juga menambahkan, "Bahkan setelah menjadi presiden, saya berharap untuk tetap berada di samping rakyat dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya."
Sepanjang pemerintahan Hasina, Alamgir sering kali ditangkap dan menghadapi puluhan tuduhan yang menurutnya bermotif politik. Meskipun demikian, ia dipuji oleh media karena kemampuannya "menjaga BNP tetap terorganisasi dan mempertahankan eksistensi politik partai selama masa-masa sulit," merujuk pada periode yang penuh gejolak di bawah kekuasaan Hasina.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor












