NFL Intervensi Mahkamah Agung AS Terkait Legalitas Pasar Prediksi Olahraga

National Football League (NFL) secara resmi mengambil langkah hukum untuk menentang platform pasar prediksi Kalshi di Mahkamah Agung Amerika Serikat. Liga olahraga profesional paling populer di Amerika tersebut mengajukan amicus brief untuk mendukung upaya negara bagian New Jersey dalam membatasi operasional pasar prediksi terkait hasil pertandingan.
Permasalahan bermula dari keputusan pengadilan Third Circuit yang menyatakan kontrak acara olahraga Kalshi dikategorikan sebagai instrumen tukar atau swap di bawah yurisdiksi Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Putusan ini secara efektif melindungi platform tersebut dari regulasi perjudian di tingkat negara bagian.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian hukum karena pengadilan Sixth Circuit dan Ninth Circuit sebelumnya justru mengeluarkan putusan yang bertolak belakang. Mahkamah Agung kini diharapkan menjadi penentu akhir atas perbedaan interpretasi hukum tersebut.
Dalam dokumen setebal puluhan halaman, NFL berargumen bahwa definisi swap menurut undang-undang Dodd-Frank seharusnya hanya mencakup instrumen untuk lindung nilai risiko yang sudah ada. Mereka menegaskan taruhan yang menciptakan risiko baru semestinya tetap berada di bawah pengawasan hukum perjudian negara bagian.
Liga merasa dirugikan karena permintaan mereka untuk melarang kontrak yang rentan manipulasi atau berkaitan dengan cedera pemain sering diabaikan oleh regulator. NFL menilai CFTC sebagai lembaga pengawas federal tidak memiliki personel yang cukup untuk mengawasi pasar prediksi yang berkembang pesat ini.
Dokumen tersebut mengungkap bahwa kontrak terkait NFL menyumbang USD 1,8 miliar atau sekitar Rp28,3 triliun dari total nilai perdagangan sebesar USD 3,3 miliar atau sekitar Rp51,9 triliun pada hari Minggu pertama musim pertandingan. Angka ini mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap pasar prediksi.
Kekhawatiran NFL juga menyasar pada aspek usia pengguna platform. Remaja berusia 18 tahun diizinkan bertaruh di Kalshi, sementara mayoritas negara bagian di Amerika Serikat menetapkan batas usia minimum 21 tahun untuk aktivitas perjudian olahraga.
William Barr, mantan Jaksa Agung Amerika Serikat yang mewakili NFL dalam kasus ini, berharap Mahkamah Agung mengeluarkan putusan sebelum musim 2027 dimulai. Keputusan ini dinilai krusial bagi masa depan industri taruhan olahraga di tingkat federal.
Pengamat hukum olahraga, Daniel Wallach, menyebut intervensi NFL meningkatkan peluang Mahkamah Agung untuk meninjau kembali perkara ini secara substansial. Wallach mencatat bahwa keterlibatan tokoh yang merancang aturan Dodd-Frank memberikan bobot lebih pada posisi liga.
Di sisi lain, beberapa liga besar seperti MLB dan NHL justru mengambil langkah kerja sama dengan platform pasar prediksi. Perbedaan sikap antar organisasi olahraga ini memperlihatkan perdebatan panjang mengenai batas antara inovasi finansial dan integritas kompetisi olahraga profesional.
Analis Bernstein memproyeksikan potensi pasar prediksi mencapai USD 10 triliun atau sekitar Rp157 kuadriliun dalam jangka panjang. Angka fantastis tersebut menjadi alasan utama mengapa pertarungan hukum di Mahkamah Agung Amerika Serikat ini dipantau ketat oleh berbagai pelaku industri global.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor













