Pemakaman Ratko Mladic Picu Perdebatan Tajam di Serbia dan Internasional

Jenazah Ratko Mladic, mantan komandan militer Serbia Bosnia, telah tiba di Serbia setelah meninggal dunia di Den Haag. Mladic sebelumnya menjalani hukuman seumur hidup atas keterlibatannya dalam genosida serta berbagai kejahatan perang di Bosnia dan Herzegovina selama konflik tahun 1992 hingga 1995.
Peti jenazah yang dibalut bendera Serbia diangkut oleh anggota Angkatan Bersenjata Serbia dari bandara menuju Akademi Medis Militer untuk proses otopsi. Sepanjang perjalanan, sejumlah kelompok warga berdiri di jembatan penyeberangan untuk menyambut iring-iringan kendaraan dengan spanduk bertuliskan ungkapan terima kasih kepada sang jenderal.
Suasana di lapangan tampak terbelah. Media pro-pemerintah secara rutin menyebut Mladic sebagai jenderal Serbia dan menyebarkan narasi bahwa ia meninggal karena dibunuh, alih-alih akibat komplikasi kesehatan di usia 85 tahun.
Pemerintah Serbia melalui Presiden Aleksandar Vucic menyatakan bahwa keputusan mengenai prosedur pemakaman akan diserahkan sepenuhnya kepada pihak keluarga. Meski demikian, pihak keamanan memprediksi kehadiran puluhan ribu orang yang akan memadati prosesi pemakaman pada Senin mendatang.
Terdapat kekhawatiran mengenai potensi kekacauan saat acara berlangsung. Presiden Vucic menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga ketertiban umum dan keamanan, namun ia mengakui bahwa menjamin keselamatan setiap orang dalam situasi emosional seperti ini merupakan tugas yang berat.
Rencana pemberian penghormatan kenegaraan bagi Mladic memicu kritik keras dari komunitas internasional. Komisaris Pembesaran Uni Eropa, Marta Kos, menyatakan bahwa pemuliaan terhadap pelaku kejahatan perang tidak sejalan dengan nilai-nilai Eropa dan tidak memiliki tempat di negara kandidat anggota Uni Eropa.
Jasmina Lazovic dari Humanitarian Law Center mengungkapkan bahwa fenomena ini bukanlah hal baru. Menurutnya, glorifikasi terhadap sosok Mladic telah berlangsung lama melalui mural di berbagai kota kecil di Serbia, yang menciptakan persepsi seolah-olah sang jenderal adalah pahlawan yang dikriminalisasi.
Persoalan ini juga menyentuh aspek hukum domestik di Serbia. Berdasarkan Undang-Undang Angkatan Bersenjata Serbia, individu yang dijatuhi hukuman penjara lebih dari satu tahun atas tindak pidana kehilangan pangkat dan semua hak istimewa yang melekat padanya.
Pemberian penghormatan kenegaraan kepada seseorang yang telah dicabut pangkatnya secara hukum akan menjadi pelanggaran aturan di negara tersebut. Situasi ini menempatkan pemerintah di antara tekanan politik domestik dan komitmen moral terhadap hukum internasional.
Warga Serbia sendiri memiliki pandangan yang sangat beragam terkait warisan kelam Mladic. Sebagian masyarakat masih menganggapnya sebagai pelindung bangsa, sementara yang lain menerima putusan pengadilan internasional tanpa syarat.
Namun, banyak pula warga yang memilih untuk bersikap apatis terhadap isu ini. Mereka merasa lelah dengan manuver politik yang terus mendominasi ruang publik dan lebih memprioritaskan penyelesaian masalah ekonomi sehari-hari di tengah ketidakpastian kondisi negara.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor













