Pengguna Bisa Matikan Algoritma Media Sosial di Aturan Baru Australia

Pemerintah Australia tengah mempersiapkan regulasi baru yang memungkinkan pengguna mematikan fungsi algoritma media sosial di akun mereka secara mandiri. Langkah progresif ini diambil guna menekan dampak buruk dari umpan konten yang adiktif serta dinilai memicu polarisasi di tengah masyarakat.
Menteri Komunikasi Australia, Michelle Rowland, menegaskan bahwa perusahaan teknologi raksasa telah terlalu lama menjadikan warga Australia sebagai kelinci percobaan dalam uji coba produk tanpa regulasi yang ketat.
Pernyataan Rowland merujuk pada cara kerja platform digital yang terus menyajikan konten berbasis data perilaku pengguna demi meningkatkan waktu interaksi. Menurut draf kebijakan terbaru, pengguna nantinya memiliki hak penuh untuk memilih tampilan linimasa berbasis urutan kronologis belaka. Kebijakan ini diharapkan mampu mengembalikan kontrol privasi dan kesehatan mental pengguna dari cengkeraman kecerdasan buatan.
Rencana undang-undang ini muncul di tengah kekhawatiran global mengenai dampak buruk algoritma terhadap anak-anak dan remaja. Australia sendiri sebelumnya telah mengusulkan pembatasan usia minimal 16 tahun untuk penggunaan media sosial.
"Kami ingin memastikan masyarakat memiliki kendali penuh atas apa yang mereka konsumsi di ruang digital," ujar Rowland saat menjelaskan draf aturan tersebut di Canberra.
Usulan ini diperkirakan akan menghadapi perlawanan sengit dari raksasa teknologi seperti Meta, ByteDance, dan Google. Perusahaan-perusahaan tersebut sangat bergantung pada algoritma rekomendasi untuk mempertahankan pendapatan iklan yang bernilai miliaran dolar AS. Kehilangan kemampuan memetakan minat pengguna dapat menurunkan efektivitas penargetan iklan mereka secara signifikan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor














