Persaingan Pengaruh China dan India dalam Pertemuan KTT BRICS di Rusia

China dan India kini tengah menunjukkan perbedaan visi strategis yang tajam dalam keanggotaan kelompok ekonomi BRICS.
Beijing memanfaatkan blok ini sebagai instrumen utama untuk menantang dominasi Amerika Serikat di kancah global. Sementara itu, New Delhi justru berupaya menjaga agar kelompok tersebut tetap inklusif sehingga India tidak terjebak dalam polarisasi kekuatan besar dunia.
Pertemuan tingkat tinggi BRICS yang berlangsung di Rusia menjadi panggung bagi kedua negara untuk saling menguji pengaruh mereka.
China, dengan kekuatan ekonomi dan diplomasi infrastrukturnya, mendorong perluasan anggota sebagai cara memperkuat narasi dunia multipolar. Mereka ingin melihat BRICS menjadi aliansi tandingan yang mampu menggeser pengaruh institusi Barat seperti G7.
Di sisi lain, India memilih pendekatan yang lebih berhati-hati. Pemerintah India khawatir bahwa penambahan anggota yang terlalu cepat atau afiliasi politik yang terlalu condong ke blok tertentu akan melemahkan posisi mereka sebagai negara non-blok yang strategis.
Kebijakan luar negeri India selama ini bertumpu pada kemandirian posisi. Mereka menjaga hubungan ekonomi yang erat dengan Barat, namun di saat bersamaan tetap menjalin kerja sama dalam format BRICS.
Perlu diketahui, BRICS awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Kelompok ini adalah forum informal yang berfokus pada kerja sama ekonomi negara-negara berkembang.
Ketegangan diplomatik antara China dan India pun bukan hal baru bagi pengamat geopolitik. Keduanya kerap berselisih mengenai batas wilayah di pegunungan Himalaya yang sering memicu ketidakstabilan di kawasan Asia Selatan.
Perbedaan sikap mengenai arah masa depan BRICS ini mencerminkan kompetisi yang lebih luas dalam memperebutkan pengaruh di pasar berkembang global. China memandang ekspansi ini sebagai keharusan historis untuk membangun tatanan dunia baru.
India justru menekankan pentingnya menjaga keseimbangan. Mereka tidak ingin BRICS menjadi alat satu pihak untuk mendikte agenda global yang berpotensi memicu isolasi dari mitra ekonomi lainnya.
Ketidaksepakatan ini tentu akan mewarnai setiap diskusi formal maupun informal di dalam agenda KTT tersebut. Bagaimana kedua negara ini berkompromi akan menentukan efektivitas organisasi ke depan.
Jika China dan India terus berada dalam posisi yang berseberangan, konsensus internal BRICS bisa terhambat. Hal ini akan menyulitkan kelompok tersebut dalam mencapai tujuan besar seperti dedolarisasi atau reformasi lembaga keuangan dunia.
Situasi ini menegaskan bahwa keanggotaan dalam organisasi besar tidak menjamin keselarasan kepentingan. China dan India tetap menjalankan agenda nasionalnya masing-masing yang terkadang saling berbenturan di panggung global.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











