Produksi Minyak Arab Saudi Merosot ke Titik Terendah dalam Tiga Dekade

Pasokan minyak mentah Arab Saudi anjlok ke level terendah dalam lebih dari 30 tahun terakhir setelah serangkaian serangan dari kelompok Houthi.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mencatat produksi minyak Arab Saudi merosot 2,3 juta barel per hari pada Agustus. Angka tersebut membuat total pasokan harian mereka menyentuh level 6 juta barel.
Penurunan drastis ini dipicu oleh serangan masif terhadap fasilitas pemrosesan minyak Aramco di Abqaiq dan Khurais. Serangan tersebut melumpuhkan sebagian besar infrastruktur vital yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor minyak mentah negara tersebut ke pasar global.
Abqaiq merupakan fasilitas pengolahan minyak terbesar di dunia yang terletak di Provinsi Timur Arab Saudi. Lokasi ini memegang peran vital dalam menstabilkan tekanan minyak sebelum disalurkan ke terminal ekspor di pelabuhan-pelabuhan utama.
Kondisi ini segera memicu kekhawatiran di pasar energi dunia. Para investor memantau ketat stabilitas pasokan di Timur Tengah yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah harian dunia.
Kenaikan harga minyak di pasar berjangka tidak terelakkan pasca laporan tersebut dirilis. Brent Crude sempat melonjak hingga melampaui USD 65 (sekitar Rp1.020.000) per barel, angka yang cukup signifikan dalam struktur biaya energi global saat ini.
Kelompok Houthi dari Yaman mengeklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menggunakan serangkaian drone dan rudal canggih untuk menembus sistem pertahanan udara di fasilitas strategis milik Arab Saudi.
Situasi ini memperuncing ketegangan geopolitik yang memang sudah lama membara di wilayah Teluk. Arab Saudi bersama koalisi internasional tengah melakukan pemulihan infrastruktur yang rusak secara bertahap.
Para analis pasar komoditas menilai langkah pemulihan akan memakan waktu cukup panjang. Kerusakan pada menara stabilisasi dan tangki penyimpanan memerlukan peralatan khusus yang tidak mudah didapatkan dalam waktu singkat.
Ketergantungan dunia pada pasokan minyak dari Teluk tetap menjadi titik lemah yang rentan terhadap konflik regional. Jika gangguan berlanjut, dampaknya bagi inflasi energi global akan terasa hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk menutupi kebutuhan bahan bakar dalam negeri.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan komitmen mereka untuk tetap memenuhi kontrak pengiriman bagi pelanggan setia. Namun, realitas lapangan menunjukkan kapasitas produksi tidak bisa pulih seketika tanpa perbaikan teknis yang komprehensif.
Pasar kini menunggu langkah IEA selanjutnya dalam memitigasi risiko kelangkaan pasokan. Cadangan minyak strategis global mungkin akan digunakan sebagai bantalan jika gangguan produksi di Arab Saudi berlangsung lebih dari hitungan bulan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











