Represi Berdarah Iran 2026: Korban Bersaksi 'Mereka Menembak Mati'

Tujuh bulan berlalu sejak represi Iran atas protes Januari 2026 yang mengguncang negara tersebut, namun korban kekerasan masih berjuang memulihkan diri. Kesaksian pilu dari para penyintas mengungkapkan kebrutalan pasukan keamanan yang menargetkan massa.
Protes yang bermula pada Desember 2025 akibat kesulitan ekonomi ini dengan cepat meluas, menjadi gelombang unjuk rasa terbesar yang pernah dihadapi rezim Teheran. Pasukan keamanan, termasuk Basij dan IRGC, menanggapi demonstran dengan tembakan dan pemukulan. Ini memicu kecaman internasional, bahkan ancaman militer dari Presiden AS kala itu.
Angka pasti korban tewas dan luka masih buram, dengan otoritas Iran melaporkan lebih dari 3.100 kematian. Namun, Amnesty International dan HRANA menduga jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi, mencapai ribuan, akibat pemadaman internet dan tekanan pada keluarga korban.
Baca Juga:
- Krisis BBM Rusia Memanas Akibat Serangan Ukraina, Putin Tertekan?
- Peta Jalan Perdamaian Kongo Timur: Harapan di Tengah Ujian Serius
- Paradoks Jet Fuel Nigeria: Eropa Aman, Maskapai Lokal Terancam
Massoud, seorang demonstran, meninggal setelah berbulan-bulan menderita luka akibat ratusan tembakan pelet, dengan cedera femur yang tidak terobati tuntas di rumah karena ketakutan. Mahla, seorang ibu tunggal, ditembak puluhan pelet Basij saat berusaha menyelamatkan putranya, kini cacat dan kehilangan pekerjaan. "Mereka menembak untuk membunuh. Saya harap mereka membunuh saya daripada membiarkan saya cacat," ujarnya pilu.
Dokter Hamid Hemmatpour dari Asosiasi Profesional Kesehatan Austria untuk Hak Asasi Manusia, menyoroti penanganan medis yang kacau balau, dengan banyak korban terpaksa dirawat di rumah. Cedera umum seperti kepala, leher, dan dada akibat peluru tajam atau senjata otomatis, menunjukkan niat untuk membunuh. Beberapa pasukan bahkan menyerang dengan pisau saat amunisi habis.
Ashkan, 17 tahun, kehilangan satu mata dan kaki diamputasi setelah ditembak penembak jitu saat berdemonstrasi, menghancurkan masa depannya. Rezim terus menekan mereka yang dianggap terlibat, dengan laporan PBB menyebutkan setidaknya 27 demonstran Januari 2026 telah dieksekusi sejak Maret 2026.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor










