Rudal Balistik Rusia Hantam Kyiv Usai Utusan Amerika Serikat Bertolak

Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali diguncang serangan udara intensif dari pasukan Rusia pada Selasa pagi.
Ledakan terdengar setelah delegasi negosiator perdamaian asal Amerika Serikat meninggalkan wilayah tersebut, yang memicu kekhawatiran baru akan eskalasi konflik di kawasan Eropa Timur. Serangan ini melibatkan penggunaan rudal balistik yang menyasar sejumlah infrastruktur di dalam kota.
Otoritas setempat melaporkan setidaknya enam orang mengalami luka-luka akibat insiden ini. Tim medis dan petugas darurat langsung dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi warga yang terdampak, sementara puing-puing bangunan berserakan di titik-titik ledakan.
Militer Ukraina menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka berupaya keras menghalau proyektil yang masuk. Meski beberapa rudal berhasil dicegat, serpihan yang jatuh tetap menimbulkan kerusakan material dan memakan korban jiwa maupun luka di area pemukiman padat penduduk.
Rudal balistik merupakan senjata yang meluncur dalam lintasan busur tinggi ke luar angkasa sebelum akhirnya menukik tajam ke sasaran di darat dengan kecepatan tinggi. Karakteristik teknis ini membuat rudal jenis tersebut sangat sulit dideteksi dan diintersepsi oleh sistem pertahanan konvensional yang dimiliki Ukraina.
Pemerintah Ukraina menilai waktu penyerangan ini bukan sekadar kebetulan. Mereka menduga Moskow sengaja memilih momen tepat setelah utusan Amerika Serikat bertolak untuk mengirimkan pesan diplomatis yang agresif di tengah upaya perundingan yang berjalan alot.
Kementerian Pertahanan Rusia sejauh ini belum memberikan keterangan detail mengenai target spesifik yang disasar dalam operasi tersebut. Biasanya, Rusia mengklaim bahwa target serangan mereka adalah pusat komando militer, pabrik senjata, atau infrastruktur energi vital milik Ukraina.
Situasi di Kyiv sempat tegang selama beberapa pekan terakhir karena intensitas serangan udara yang cenderung menurun. Namun, insiden Selasa ini menjadi pengingat bagi warga Ukraina bahwa bahaya masih mengintai di setiap sudut kota, terutama saat malam hingga pagi hari ketika serangan sering terjadi.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Ukraina turut mengecam tindakan tersebut melalui pernyataan resminya. Ia menegaskan bahwa aksi militer yang menyasar warga sipil merupakan pelanggaran hukum internasional yang harus mendapatkan respons tegas dari komunitas global.
Sementara itu, warga Kyiv kembali harus berlindung di stasiun kereta bawah tanah yang berfungsi sebagai bunker darurat. Penggunaan stasiun bawah tanah ini lazim dilakukan sejak awal invasi tahun 2022 karena struktur bangunan yang cukup dalam dan mampu menahan getaran ledakan rudal.
Hingga siang hari, otoritas kota masih melakukan pendataan mengenai tingkat kerusakan bangunan permanen di wilayah terdampak. Listrik dan air di beberapa titik sempat dilaporkan terganggu akibat hantaman rudal yang mengenai jaringan pipa serta kabel transmisi utama.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













