
Gencatan senjata yang sempat disepakati Oktober lalu sebenarnya diharapkan menjadi tanda berakhirnya perang di Gaza pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Namun, realita di lapangan justru berkata lain.
Setahun berlalu, intensitas serangan udara Israel memang mengalami penurunan, tetapi kekerasan masih terus berlangsung. Warga Gaza kini hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian yang mencekam di tengah reruntuhan rumah mereka yang telah hancur lebur.
Situasi kemanusiaan di wilayah tersebut semakin memprihatinkan akibat blokade yang menghambat aliran bantuan esensial. Stok obat-obatan menipis dan akses terhadap air bersih menjadi barang mewah bagi mereka yang bertahan hidup di kamp pengungsian sementara.
PBB mendefinisikan Gaza sebagai zona bencana kemanusiaan yang membutuhkan perhatian global segera. Lembaga internasional ini mencatat kerusakan infrastruktur sipil telah mencapai lebih dari 70 persen, yang melumpuhkan layanan dasar kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak di sana.
Upaya diplomasi internasional untuk mencapai perdamaian permanen hingga saat ini masih menemui jalan buntu. Delegasi dari berbagai negara telah berupaya melakukan mediasi, namun perbedaan posisi politik antara pihak yang bertikai belum juga menemui titik temu.
Banyak pengamat menilai bahwa krisis di Gaza mencerminkan kompleksitas konflik berkepanjangan yang melibatkan aktor regional serta global. Dampak ekonomi dari perang ini juga dirasakan oleh negara-negara tetangga yang harus menanggung beban pengungsi serta stabilitas keamanan di perbatasan.
Di sisi lain, warga sipil Palestina di Gaza terus berusaha mencari harapan di tengah tumpukan puing. Mereka membangun kembali kehidupan dari nol dengan keterbatasan akses logistik, menanti hari di mana suara ledakan tidak lagi memekakkan telinga setiap malam.
Salah seorang warga setempat menuturkan bahwa bertahan hidup saat ini adalah bentuk perlawanan yang paling nyata. Baginya, setiap pagi yang dilewati tanpa serangan adalah anugerah di tengah kelangkaan pangan yang terus menghantui keluarga-keluarga di pengungsian.
Dunia internasional kini menanti langkah konkret dari Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan siklus kekerasan yang tidak kunjung reda. Kegagalan mencapai kesepakatan baru dikhawatirkan akan memicu ketidakstabilan lebih luas di Timur Tengah yang berdampak langsung pada harga energi global.
Kondisi ekonomi domestik Israel pun mulai merasakan beban dari mobilisasi militer jangka panjang yang memakan anggaran besar. Pemerintah Israel menghadapi tekanan domestik untuk segera menyelesaikan konflik agar roda ekonomi bisa berputar kembali seperti sedia kala.
Hingga detik ini, warga Gaza masih terkurung dalam garis waktu yang seakan berhenti di tengah kehancuran. Harapan untuk kedamaian masih ada, namun terselip tipis di balik sisa tembok beton yang masih kokoh berdiri di antara puing-puing bangunan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor