Sejarah Baru Maroko: Raja Tunjuk Fatima Ezzahra El Mansouri Jadi Perdana Menteri

Raja Maroko secara resmi menunjuk Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai Perdana Menteri dalam sebuah langkah politik yang memecah tradisi panjang di negara Afrika Utara tersebut.
Penunjukan ini mencatatkan sejarah baru bagi Maroko, sebab El Mansouri menjadi perempuan pertama yang menduduki posisi kepala pemerintahan di negara tersebut. El Mansouri merupakan seorang pengacara sekaligus politisi ulung yang berasal dari partai berhaluan tengah, yaitu Authenticity and Modernity Party atau Partai Keaslian dan Modernitas.
Keputusan sang raja dipandang oleh banyak pengamat sebagai upaya modernisasi dalam struktur kepemimpinan nasional. El Mansouri sendiri bukanlah sosok baru dalam dunia politik domestik karena sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Menteri Perencanaan Kota dan Perumahan, serta dikenal sebagai Wali Kota Marrakech.
Peran baru ini menjadikan El Mansouri sebagai perempuan kedua yang memimpin pemerintahan di seluruh wilayah Afrika Utara setelah pencapaian serupa di negara tetangga kawasan tersebut. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam menangani tantangan ekonomi serta reformasi sosial yang sedang digalakkan oleh monarki Maroko.
Banyak pihak menilai bahwa latar belakangnya sebagai praktisi hukum akan memberikan bobot tersendiri dalam menyusun kebijakan publik yang lebih transparan. Terlebih lagi, partai pendukungnya dikenal memiliki visi progresif yang berupaya menyeimbangkan nilai-nilai tradisional Maroko dengan tuntutan era modern.
Partai Keaslian dan Modernitas sendiri merupakan kekuatan politik yang dibentuk oleh sekutu dekat istana untuk mengimbangi pengaruh kelompok-kelompok konservatif dan religius di parlemen. Keberhasilan El Mansouri menembus dominasi laki-laki dalam jajaran eksekutif tertinggi menunjukkan pergeseran peta politik yang cukup signifikan di kawasan ini.
Pemerintah Maroko saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari inflasi yang menekan daya beli masyarakat hingga isu ketersediaan air akibat perubahan iklim yang ekstrem. Penunjukan ini menjadi sinyal bagi publik bahwa pemerintah bersiap mengambil kebijakan yang lebih inklusif dengan melibatkan partisipasi perempuan di level pengambilan keputusan tertinggi.
Meski otoritas raja tetap menjadi penentu kebijakan strategis, peran Perdana Menteri dalam menjalankan operasional pemerintahan harian tetap krusial untuk menjaga stabilitas domestik. Publik kini menanti langkah perdana El Mansouri dalam membentuk kabinet yang akan mendampinginya selama masa jabatannya ke depan.
Kehadiran perempuan dalam jabatan publik tingkat tinggi seperti ini juga memberikan inspirasi bagi aktivis kesetaraan gender di seluruh kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Langkah berani dari kerajaan ini diharapkan dapat memicu diskusi lebih luas mengenai reformasi hukum keluarga serta keterlibatan perempuan dalam pembangunan nasional yang lebih merata.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4566998/original/061616400_1694076572-000_APP2001040834031.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360352/original/036757100_1790629693-000_C9LK8WL-Turki_Italia.jpg)
