
Sering mengecek layar ponsel berulang kali meski tidak ada satu pun notifikasi yang masuk telah menjadi fenomena umum di era digital saat ini.
Banyak orang melakukan kebiasaan ini secara tidak sadar, bahkan saat sedang sibuk melakukan pekerjaan lain. Tindakan tersebut memicu perdebatan mengenai batas kewajaran perilaku manusia dalam berinteraksi dengan gawai.
Para ahli psikologi menyebut perilaku ini sebagai phantom vibration syndrome atau sekadar kebiasaan kompulsi ringan. Fenomena ini terjadi ketika otak manusia terbiasa mengharapkan dopamin dari stimulasi digital, yakni rasa senang sesaat saat kita melihat pesan baru atau interaksi di media sosial.
Secara medis, memeriksa gawai secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas dapat mengganggu konsentrasi mendalam atau yang dikenal sebagai deep work. Fokus yang terpecah ini akan menurunkan produktivitas seseorang dalam jangka panjang.
Kondisi ini juga berkaitan erat dengan rasa cemas akan tertinggal informasi, atau yang sering disebut sebagai fear of missing out. Ketakutan ini mendorong penggunanya untuk tetap terhubung secara konstan dengan dunia maya agar merasa tetap relevan.
Dokter spesialis kesehatan mental mencatat bahwa perilaku tersebut tidak serta-merta digolongkan sebagai gangguan jiwa yang berat. Namun, kebiasaan ini berpotensi merusak kesehatan mental jika frekuensinya mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan pola tidur pengguna.
Gejala fisik yang menyertai kebiasaan ini sering kali berupa ketegangan otot leher atau mata lelah akibat paparan layar yang terlalu sering. Selain itu, ketergantungan pada layar dapat mengurangi interaksi tatap muka yang sebenarnya jauh lebih bermanfaat untuk kesejahteraan emosional.
Strategi untuk meminimalisir dampak ini dapat dimulai dengan mengatur ulang notifikasi pada pengaturan ponsel. Membatasi aplikasi yang mengirimkan pemberitahuan non-esensial akan membantu mengurangi dorongan untuk terus memeriksa layar.
Beberapa riset menunjukkan bahwa memberikan jeda waktu tanpa teknologi selama satu jam sebelum tidur sangat efektif untuk memutus siklus kecanduan digital. Praktik ini memungkinkan otak untuk beristirahat dari rangsangan visual yang intens.
Penting bagi pengguna untuk mulai menyadari pola penggunaan ponsel mereka sehari-hari. Jika seseorang mulai merasa gelisah atau panik saat ponsel tidak berada di dekatnya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan detoks digital secara berkala.
Kebiasaan sehat ini akan membantu mengembalikan kontrol atas waktu pribadi yang selama ini tersita oleh layar. Pada dasarnya, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung produktivitas, bukan justru mengendalikan perilaku manusia.
Dengan kesadaran penuh, kita dapat kembali menempatkan gawai sebagai fasilitas hidup. Menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia digital adalah kunci utama kesehatan mental di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor