Startup AI Wabi Ubah Strategi Jadi Aplikasi Pesan Berbasis Agen Pintar

Startup kecerdasan buatan Wabi resmi mengumumkan perubahan arah bisnis mereka dari platform pembuat aplikasi menjadi aplikasi pesan berbasis agen pintar atau AI messenger.
Keputusan ini diambil menyusul meningkatnya permintaan pasar terhadap agen AI yang mampu menjalankan berbagai tugas produktivitas secara simultan, seperti yang dilakukan oleh Meta dengan Muse dan Instinct.
Pendiri Wabi, Eugenia Kuyda, menjelaskan bahwa versi terbaru aplikasi ini, yang disebut Wabi 2.0, akan berperan sebagai asisten pribadi yang membantu pengguna menyelesaikan pekerjaan sekaligus membangun antarmuka digital secara langsung sesuai kebutuhan saat itu juga.
Kuyda sendiri bukan nama baru dalam industri ini, ia sebelumnya dikenal sebagai pendiri Replika, sebuah startup yang mengembangkan teman virtual berbasis kecerdasan buatan.
Strategi baru ini menempatkan Wabi di posisi kompetitif dengan berbagai agen AI yang kini tengah gencar memadukan fungsi percakapan dan produktivitas dalam satu platform terpadu.
Perubahan fokus Wabi mencerminkan tren yang juga diikuti raksasa teknologi seperti OpenAI, yang terus memperbarui fitur plugin ChatGPT agar aplikasi pihak ketiga dapat berjalan secara interaktif di dalam antarmuka chatbot mereka.
Kuyda mengungkapkan melalui unggahan di media sosial X bahwa model chat-only atau aplikasi yang hanya mengandalkan teks, cenderung melelahkan bagi pengguna seiring berjalannya waktu.
Riwayat percakapan yang panjang akan membuat tugas-tugas penting terkubur di bawah guliran teks tanpa akhir, sehingga menciptakan pengalaman pengguna yang kurang optimal.
Pengguna pada dasarnya tidak ingin hanya terus mengetik, mereka juga membutuhkan elemen visual seperti mengetuk layar, menggulir, dan melihat antarmuka yang intuitif.
Oleh karena itu, agen AI paling efisien saat ini adalah mereka yang mampu menggabungkan kenyamanan percakapan dengan fleksibilitas perangkat lunak tradisional.
Cara kerjanya cukup praktis, saat pengguna memberikan perintah, agen akan merancang antarmuka khusus secara otomatis untuk membantu penyelesaian tugas tersebut.
Sebagai contoh, pengguna bisa meminta asisten untuk membuat alat pelacak kalori, catatan latihan beban, atau grafik perkembangan berat badan yang dapat diakses langsung dalam utas percakapan kesehatan.
Konsep ini juga dapat diterapkan untuk urusan keluarga, seperti menyusun kalender kegiatan anak atau mengelola daftar agenda rumah tangga dalam satu ruang digital yang terorganisir.
Wabi 2.0 ingin mewujudkan visi di mana agen pribadi, aplikasi penunjang, dan data keluarga berada di satu tempat untuk mengelola aspek terpenting dalam kehidupan sehari-hari.
Saat ini, aplikasi Wabi 2.0 baru tersedia terbatas melalui sistem kode undangan yang dibagikan oleh perusahaan melalui platform X bagi mereka yang ingin mencoba pengalaman ini lebih awal.
Di Indonesia sendiri, adopsi agen AI untuk produktivitas mulai menunjukkan tren positif meski tantangan keterbatasan bahasa lokal dalam aplikasi global masih sering ditemukan.
Kehadiran inovasi seperti Wabi diharapkan dapat memberi perspektif baru bagi pengguna di Tanah Air dalam memanfaatkan teknologi AI guna meningkatkan efisiensi kerja tanpa harus berpindah-pindah aplikasi.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor











