Gol yang dicetak Frattesi ke gawang Turki ternyata bukan sebuah kebetulan semata, melainkan buah dari instruksi taktis yang sangat spesifik. Sebelum laga dimulai, pelatih sudah mengingatkan dirinya untuk selalu waspada terhadap bola muntah di dalam kotak penalti lawan.
Strategi tersebut terbukti ampuh ketika Italia memperagakan kombinasi umpan satu sentuhan yang sangat cepat hingga menembus jantung pertahanan Turki. Frattesi bergerak liar ke ruang kosong dan berada di posisi yang tepat saat kiper lawan gagal menangkap bola dengan sempurna hasil tembakan keras Kayode.
Pelatih menekankan bahwa setiap saran yang diberikan kepada pemain selalu didasarkan pada analisis mendalam terhadap kelemahan lawan. Frattesi mengakui bahwa kecermatan pelatih dalam membaca situasi pertandingan menjadi faktor pembeda dalam laga yang berlangsung di bawah guyuran hujan tersebut.
Selain soal taktik, perhatian penonton juga tertuju pada aksi debutan Michael Kayode yang menunjukkan kemampuan unik dalam melakukan lemparan ke dalam. Bek yang bermain untuk Brentford di Premier League Inggris tersebut memiliki jangkauan lemparan yang sangat jauh, mirip dengan sebuah tendangan sudut.
Kondisi lapangan yang berlumpur dan bola yang licin membuat Kayode harus melakukan persiapan khusus dengan membawa handuk ke pinggir lapangan untuk mengeringkan bola. Aksi ini sempat memicu tawa dari rekan-rekan setimnya, termasuk Frattesi yang mengaku sempat kebingungan melihat tingkah laku sang bek muda.
"Saya benar-benar bingung saat melihat dia sibuk dengan handuk di pinggir lapangan, saya sempat bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang dia lakukan," kata Frattesi sambil tertawa mengenang momen unik tersebut.
Kehadiran Kayode memberikan dimensi baru dalam skema penyerangan Italia yang selama ini cenderung mengandalkan permainan kaki ke kaki. Debutnya dianggap sempurna karena ia tidak hanya berkontribusi pada proses gol Frattesi, tetapi juga berhasil mencetak gol debutnya sendiri untuk melengkapi kemenangan Italia.