Tantangan Berat Balendra Shah Pimpin Pemulihan Banjir di Nepal

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, kini menghadapi ujian kepemimpinan paling berat sejak ia memegang tampuk kekuasaan tahun ini.
Pria berusia 36 tahun tersebut harus segera melakukan percepatan pemulihan pascabencana banjir yang melanda berbagai wilayah Nepal. Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi negara yang masih dalam fase transisi politik.
Shah naik ke kursi pemerintahan dengan membawa narasi perlawanan terhadap korupsi dan ketidakmampuan birokrasi yang membelenggu negaranya selama bertahun-tahun. Dukungan besar dari kalangan pemuda menjadi motor penggerak utama kemenangan politiknya.
Namun, harapan besar dari para pendukungnya kini berbenturan dengan realita di lapangan yang sangat kompleks.
Kerusakan infrastruktur yang masif akibat banjir menuntut anggaran besar untuk perbaikan jalan, jembatan, dan sarana publik lainnya. Para ahli memperkirakan kerugian ekonomi mencapai jutaan dolar AS (puluhan miliar rupiah), sebuah angka yang cukup membebani kas negara Nepal yang terbatas.
Pemerintah Nepal harus segera menyalurkan bantuan logistik ke daerah-daerah terpencil yang terisolasi akibat tanah longsor dan jembatan putus. Proses evakuasi dan distribusi kebutuhan pokok menjadi prioritas utama sebelum musim dingin tiba.
Masyarakat kini mengawasi setiap langkah yang diambil oleh pemerintahan muda ini. Mereka ingin melihat apakah janji perubahan yang dulu diteriakkan Shah bisa diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah krisis.
Ketidakmampuan dalam menangani dampak banjir bisa menjadi bumerang bagi popularitas Shah yang sempat melonjak tinggi. Kritik mulai muncul dari oposisi terkait lambatnya birokrasi dalam menyalurkan dana tanggap darurat ke titik-titik terdampak paling parah.
Secara geopolitik, Nepal merupakan negara yang terjepit di antara dua raksasa ekonomi, yakni India dan Tiongkok. Ketergantungan pada bantuan luar negeri untuk rekonstruksi pascabencana sering kali membawa konsekuensi diplomatik yang tidak mudah bagi pemimpin muda seperti Shah.
Dalam konteks domestik, ia harus menyeimbangkan antara tuntutan rakyat akan perbaikan ekonomi dengan upaya menjaga integritas pemerintahan dari praktik suap. Tantangan ini bukan sekadar urusan teknis pembangunan fisik, melainkan ujian moral dan manajerial bagi pemerintahan yang baru seumur jagung.
Waktu terus berjalan bagi Shah untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pemimpin nasional.
Jika ia berhasil memimpin pemulihan ini dengan transparan dan efisien, posisinya di kancah politik Nepal akan semakin kuat. Sebaliknya, kegagalan dalam merespons bencana akan memperlebar celah ketidakpercayaan publik yang selama ini menjadi titik lemah pemerintah pendahulunya.
Dunia internasional kini menanti langkah konkret dari Katmandu terkait rencana pemulihan jangka panjang bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Nepal memerlukan bantuan teknis serta pendanaan hibah yang besar untuk memulihkan kehidupan warga yang terdampak langsung oleh krisis iklim ini.
Keberhasilan di sektor ini akan menentukan masa depan karier politik Shah sebagai simbol pembaharuan di kawasan Asia Selatan.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







