Teror Drone Rusia Tanpa Henti Bawa Fase Berbahaya Perang di Kyiv
Warga Kyiv kini menghadapi ancaman serangan drone Rusia yang berlangsung hampir tanpa jeda sepanjang hari.
Situasi ini menandai pergeseran strategi militer Moskow yang sebelumnya lebih banyak melancarkan serangan udara hanya pada malam hari. Perubahan pola ini membuat penduduk ibu kota Ukraina tersebut merasa kelelahan sekaligus dihantui rasa cemas yang meningkat.
Sirene peringatan serangan udara terus meraung, mengganggu aktivitas warga sejak pagi hingga larut malam. Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis luar biasa bagi mereka yang masih bertahan di tengah kota.
Selama bertahun-tahun, pola serangan Rusia relatif dapat diprediksi dengan fokus pada waktu istirahat warga di malam hari. Namun, taktik terbaru ini memaksa warga Kyiv untuk tetap waspada selama 24 jam penuh tanpa ada waktu jeda yang aman.
Teknologi drone yang digunakan oleh pasukan Rusia kini menjadi alat intimidasi yang efektif. Drone murah jenis Shahed yang diproduksi secara massal ini mampu bertahan di udara lebih lama untuk membingungkan sistem pertahanan udara Ukraina.
Masyarakat setempat mengeluhkan kurangnya waktu tidur akibat suara dengungan mesin drone yang sering terdengar di atas permukiman warga. Ketidakpastian kapan drone akan meledak atau jatuh menyebabkan tingkat stres kolektif melonjak tajam.
Pemerintah Ukraina menyatakan bahwa taktik Rusia ini bertujuan untuk merusak moral warga sipil dan menguras sumber daya pertahanan udara mereka. Setiap unit drone yang ditembak jatuh memaksa Ukraina mengeluarkan biaya mahal untuk amunisi rudal pencegat yang harganya mencapai USD 1 juta atau sekitar Rp15,7 miliar per unit.
Satu drone penyerang sendiri seringkali hanya menelan biaya produksi di kisaran USD 20.000 atau sekitar Rp314 juta. Perbandingan harga yang sangat timpang ini memperlihatkan strategi Rusia dalam menekan ekonomi perang Ukraina secara berkelanjutan.
Di sisi lain, para ahli militer menilai bahwa penggunaan drone secara terus-menerus berfungsi untuk mendeteksi celah dalam sistem pertahanan Kyiv. Mereka mencoba mencari titik lemah sebelum meluncurkan serangan rudal yang jauh lebih destruktif ke objek vital.
Kehidupan di Kyiv perlahan berubah menjadi medan tempur yang menyesakkan bagi warga sipil. Rutinitas harian seperti bekerja atau berbelanja kini harus diselingi dengan lari menuju tempat perlindungan bawah tanah setiap kali peringatan bahaya berbunyi.
Hingga hari ini, belum ada tanda-tanda Moskow akan menghentikan taktik agresif tersebut. Warga di Kyiv hanya bisa berharap pada peningkatan kapasitas pertahanan udara yang dikirimkan oleh sekutu Barat mereka.
Kondisi di lapangan tetap genting dan menuntut perhatian dunia internasional terhadap keselamatan penduduk sipil di zona konflik. Ketahanan mental warga Kyiv sedang diuji dalam fase perang yang paling melelahkan sejak awal invasi berskala besar dimulai.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor









