Selain sistem pernapasan, organ penglihatan juga menjadi bagian tubuh yang paling rentan mengalami kerusakan akibat paparan debu erupsi ini. Sifat abrasif dari material kaca vulkanik dapat menyebabkan goresan pada kornea mata apabila penderita mengucek mata mereka yang kemasukan debu.
Gejala awal biasanya berupa rasa mengganjal, mata merah, perih, hingga keluarnya cairan air mata secara berlebihan. Jika tidak segera dibilas dengan air bersih yang mengalir, iritasi ringan ini berpotensi berkembang menjadi infeksi konjungtivitis atau bahkan luka permanen pada selaput mata.
Dampak langsung berikutnya menyasar kesehatan kulit yang sering kali luput dari perhatian selama masa darurat bencana. Abu yang bersifat asam dan mengandung belerang tinggi dapat memicu dermatitis kontak dengan gejala kulit kemerahan, gatal, dan kering. Gesekan antara pakaian yang terpapar abu dengan kulit yang berkeringat akan memperparah peradangan tersebut.
Masalah kesehatan tidak berhenti pada kontak fisik luar saja, melainkan juga mengancam melalui jalur konsumsi air dan makanan sehari-hari. Endapan material abu vulkanik yang jatuh di bak penampungan air terbuka atau lahan pertanian dapat meracuni sumber air bersih warga setempat. Mengonsumsi air yang tercemar logam berat dari abu vulkanik berisiko menimbulkan gangguan pencernaan akut hingga keracunan jangka panjang.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah terus mendistribusikan logistik pelindung seperti masker medis dan tetes mata ke posko pengungsian. Langkah cepat ini diambil guna menekan angka kesakitan masyarakat di wilayah terdampak erupsi.