
Europol merilis dua laporan terbaru yang meminta organisasi serta pembuat kebijakan global bersiap menghadapi ancaman komputer kuantum di masa depan.
Badan penegak hukum Uni Eropa ini secara khusus menyoroti dompet kripto sebagai titik paling rentan terhadap serangan kuantum. Mereka menyebut perangkat penyimpanan aset digital ini berisiko tinggi karena ketergantungan pada pasangan kunci publik dan privat.
Komputer kuantum yang cukup canggih nantinya mampu memecahkan kunci privat dari kunci publik yang sudah terekspos. Jika hal tersebut terjadi, peretas dapat mengakses dan menguras dana pengguna secara sepihak dalam skenario yang sering disebut sebagai Q-Day.
Meski begitu, laporan tersebut menegaskan bahwa sistem mata uang kripto secara keseluruhan tidak akan runtuh begitu saja akibat kehadiran teknologi kuantum.
Struktur fungsi hash yang menghubungkan blok-blok dalam jaringan blockchain dianggap masih cukup aman karena membutuhkan usaha komputasi yang sangat masif untuk ditembus. Para ahli menyarankan perlunya transisi kriptografi tahan kuantum yang dilakukan secara bertahap guna menjaga keamanan jangka panjang.
Tantangan besar muncul bagi dompet kripto yang kunci publiknya telah terlihat di jaringan, karena keamanan aset tersebut tidak dapat diperbaiki setelah terekspos. Perusahaan analisis blockchain Glassnode memperkirakan sebanyak 6,04 juta Bitcoin, atau sekitar 30,2 persen dari total pasokan yang beredar, telah memiliki kunci publik yang terpapar di publik.
Satu-satunya solusi bagi aset-aset tersebut adalah migrasi proaktif sebelum serangan kuantum benar-benar terjadi. Proses ini melibatkan pemindahan dana ke dompet baru yang menggunakan protokol keamanan lebih mutakhir.
Namun, peningkatan sistem Bitcoin memiliki konsekuensi biaya dan efisiensi yang tidak sedikit. Tanda tangan digital standar pasca-kuantum saat ini berukuran jauh lebih besar daripada sistem yang digunakan Bitcoin saat ini, sehingga berpotensi memperlambat proses verifikasi transaksi dan meningkatkan biaya jaringan.
Sebuah studi tahun 2024 menunjukkan bahwa proses migrasi seluruh transaksi yang belum terpakai dapat menyebabkan jeda jaringan selama minimal 76 hari. Angka ini bisa membengkak hingga 300 hari jika upaya tersebut dilakukan secara bertahap demi menjaga kestabilan blok.
Di sisi lain, perusahaan besar seperti IBM dan Microsoft telah menargetkan pencapaian komputer kuantum yang tangguh pada tahun 2029. Para peneliti terus memantau kemajuan ini karena potensi serangan terhadap sistem kriptografi yang digunakan Bitcoin saat ini terus meningkat.
Laporan kedua Europol, yang dikerjakan bersama University Carlos III of Madrid, membahas ancaman pencurian data terenkripsi saat ini untuk didekripsi di masa depan. Praktik ini dikenal sebagai strategi mengumpulkan sekarang untuk mendekripsi nanti.
Meskipun belum ada bukti nyata bahwa taktik ini digunakan secara luas, pemerintah dan perusahaan besar menjadi target yang paling masuk akal bagi para penjahat siber. Uni Eropa pun telah mendesak negara anggotanya untuk segera mengadopsi strategi migrasi pasca-kuantum sebelum akhir tahun 2026.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor