Langkah Berani PM Spanyol Pedro Sanchez Gelar Pemilu Dini di Tengah Krisis

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, baru saja mengambil langkah politik yang sangat berisiko dengan menetapkan pemilu dini yang akan berlangsung pada 29 November mendatang. Keputusan mendadak ini diambil setelah pemerintahan koalisinya mengalami kekalahan telak di parlemen terkait kebijakan penanganan krisis perumahan.
Kekalahan tersebut terjadi pada Jumat, 2 Oktober, ketika tujuh anggota parlemen dari partai separatis Catalan, Junts, menolak mendukung langkah darurat yang diusulkan pemerintah. Kegagalan ini menjadi titik nadir bagi pemerintahan Sanchez yang selama berbulan-bulan kesulitan menjaga stabilitas dukungan parlemen.
Krisis perumahan sendiri telah menjadi perhatian utama warga Spanyol selama tiga tahun terakhir. Bank Sentral Spanyol memperkirakan negara itu kini mengalami kekurangan sekitar 750.000 unit rumah, sebuah angka yang diproyeksikan melonjak hingga satu juta unit pada tahun 2028.
Situasi ini kian memanas setelah kasus penggusuran paksa Maria del Carmen Abascal yang berusia 87 tahun mencuat ke permukaan. Peristiwa tersebut memicu gelombang protes besar-besaran di Madrid dan kota-kota lain, serta mendorong serikat buruh untuk mengancam aksi mogok kerja selama 24 jam sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah.
Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini dapat disamakan dengan krisis papan yang membebani kelompok usia produktif. Lebih dari separuh penduduk Spanyol berusia 18 hingga 34 tahun masih bergantung secara finansial kepada orang tua mereka karena kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan pertumbuhan upah pekerja.
Selain masalah perumahan, pemerintahan Sanchez juga menghadapi tekanan berat akibat lonjakan migrasi ilegal di Ceuta, sebuah kota eksklave Spanyol di wilayah Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko. Penanganan krisis migrasi ini sempat mengubah arah kebijakan liberal pemerintah yang kini beralih ke prosedur deportasi yang lebih ketat.
Sementara itu, peta kekuatan politik Spanyol menunjukkan pergeseran signifikan menjelang pemilu nanti. Partai oposisi konservatif, People's Party, diprediksi menjadi kelompok terbesar di parlemen, namun partai populis sayap kanan, Vox, justru menunjukkan kenaikan elektabilitas yang cukup tajam hingga mencapai angka 18 persen.
Kemenangan pihak sayap kanan dapat mengubah wajah politik Eropa secara keseluruhan, mengingat posisi Pedro Sanchez selama ini dikenal sebagai penentang keras kebijakan Donald Trump. Kehilangan sosok pemimpin sosial demokrat di Spanyol akan berpengaruh besar terhadap dinamika kebijakan luar negeri Uni Eropa ke depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor







:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367896/original/078151300_1791366398-messi.jpg)




