Jaringan Layer-2 Ethereum Blast Resmi Berhenti Beroperasi Akibat Beban Biaya

Jaringan layer-2 Ethereum, Blast, secara resmi memutuskan untuk menghentikan operasionalnya setelah beban biaya yang dikeluarkan melebihi pendapatan yang dihasilkan oleh rantai tersebut.
Keputusan tersebut diumumkan melalui platform X pada Jumat lalu, di mana pengembang menyatakan bahwa mereka tidak lagi melihat jalur yang kredibel untuk menjaga keberlangsungan ekonomi jaringan. Para pengguna kini diminta segera memindahkan aset mereka ke jaringan utama Ethereum atau mainnet sebelum batas waktu yang ditentukan.
Blast sendiri merupakan solusi penskalaan layer-2 yang dibangun di atas jaringan Ethereum untuk meningkatkan kecepatan transaksi sekaligus menekan biaya. Teknologi ini dirancang agar pengguna dapat melakukan berbagai aktivitas keuangan terdesentralisasi dengan lebih efisien dibandingkan menggunakan rantai utama secara langsung.
Pihak pengembang menjelaskan bahwa mereka meluncurkan Blast dengan visi membangun rantai yang mandiri bagi pengguna maupun pengembang aplikasi. Sayangnya, realitas ekonomi operasional jaringan saat ini tidak lagi memungkinkan hal tersebut untuk terus dipertahankan.
Sebagai langkah transisi, jaringan akan memangkas waktu tunggu penarikan menjadi hanya 24 jam. Proses ini memerlukan waktu sekitar satu minggu karena tim harus mencairkan aset Lido, sebuah protokol liquid staking yang terintegrasi dengan jaringan tersebut.
Pengguna memiliki waktu hingga tanggal 26 Oktober mendatang untuk menarik aset melalui antarmuka resmi Blast. Lewat dari tanggal tersebut, aset memang masih tetap dapat diakses, namun penarikan harus dilakukan melalui kontrak bridge pada jaringan Ethereum secara langsung.
Pihak pengelola berjanji akan segera merilis panduan teknis bagi pengguna yang harus melakukan penarikan via kontrak bridge. Langkah ini diambil sebagai antisipasi agar tidak ada aset yang tertahan setelah operasional antarmuka Blast dihentikan sepenuhnya.
Blast didirikan oleh Tieshun Roquerre, sosok di balik pasar NFT Blur yang sempat mengguncang dominasi OpenSea pada akhir 2022. Pada masa jayanya, platform ini mampu menarik deposit hingga lebih dari USD 2 miliar atau sekitar Rp31 triliun sebelum peluncuran mainnet pada Februari 2024.
Kejatuhan jaringan ini mencerminkan dinamika yang menantang di pasar aset kripto, terutama bagi protokol yang sangat bergantung pada tren pasar NFT. Data dari DefiLlama menunjukkan bahwa total nilai aset yang dikunci atau Total Value Locked pada Blast telah merosot tajam lebih dari 98 persen sejak puncaknya pada Juni 2024.
Penurunan serupa juga dialami oleh Blur, di mana total nilai yang dikunci di dalamnya kini hanya tersisa sekitar USD 27 juta atau sekitar Rp420 miliar. Angka tersebut mencatatkan kontraksi signifikan dari puncak awal tahun 2024 yang sempat menembus angka USD 200 juta atau sekitar Rp3,1 triliun.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi para pelaku pasar mengenai risiko volatilitas pada platform aset digital. Keberhasilan inovasi teknis tidak selalu menjamin keberlanjutan bisnis jika model ekonomi yang diterapkan tidak mampu mengimbangi biaya operasional infrastruktur yang sangat tinggi.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334613/original/006699400_1756722926-000_72YW3RF.jpg)









