Harga Bitcoin Tembus 1,3 Miliar Rupiah Usai Data Lapangan Kerja AS Melemah

Bitcoin melonjak hingga melewati level 87.000 dollar AS (sekitar Rp1,37 miliar) pada perdagangan Jumat malam waktu setempat.
Kenaikan harga Bitcoin ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang meleset jauh dari prediksi para analis ekonomi. Data dari platform TradingView menunjukkan harga Bitcoin sempat menyentuh angka 87.229 dollar AS di bursa Bitstamp, hampir mencapai rekor tertinggi baru dalam delapan bulan terakhir.
Laporan Nonfarm Payrolls bulan September hanya mencatatkan penambahan 29.000 lapangan kerja baru, padahal para pelaku pasar memperkirakan akan ada tambahan sebesar 84.000 posisi. Angka untuk bulan Agustus juga mengalami revisi ke bawah dari semula 162.000 menjadi 133.000 pekerjaan saja. Laporan Nonfarm Payrolls sendiri merupakan data statistik jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian yang menjadi indikator utama kesehatan ekonomi Amerika Serikat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja di negara ekonomi terbesar dunia tersebut mulai mendingin lebih cepat dari perkiraan awal.
Merespons data tersebut, bursa saham Wall Street langsung menghijau pada pembukaan perdagangan karena para spekulan mulai mengurangi taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat. Indeks S&P 500 menguat sebesar 1 persen, sementara indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi melonjak hingga 1,8 persen.
The Kobeissi Letter, sebuah sumber informasi perdagangan global, menyebutkan bahwa rilis data kali ini merupakan laporan lapangan kerja terlemah ketiga sepanjang tahun 2026. Berdasarkan perangkat FedWatch Tool milik CME Group, peluang Bank Sentral Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen pada pertemuan Oktober kini merosot tajam. Peluang tersebut saat ini hanya berada di angka 18 persen, berbanding terbalik dengan posisi 64 persen pada pekan lalu.
Hal ini mencerminkan keyakinan investor bahwa kebijakan moneter ketat mungkin segera berakhir demi menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.
Penurunan ekspektasi bunga tersebut berdampak langsung pada imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat atau Treasury yang terkoreksi selama dua hari berturut-turut. Yield obligasi tenor 30 tahun kini berada di posisi 5,573 persen, sementara tenor 10 tahun yang menjadi acuan global kini bertengger di angka 5,2 persen.
Padahal pada pertengahan pekan lalu, imbal hasil untuk kedua tenor tersebut sempat menyentuh level tertinggi baru dalam 24 tahun terakhir. Pergerakan harga Bitcoin belum mampu menembus hambatan psikologis di atas 87.000 dollar AS secara permanen hingga penutupan perdagangan. Ada hambatan likuiditas yang cukup besar di buku pesanan bursa kripto yang menahan laju kenaikan harga di kisaran 87.300 dollar AS.
Hingga saat berita ini disusun, harga aset kripto nomor satu tersebut kembali terkoreksi ke bawah level 86.000 dollar AS (sekitar Rp1,35 miliar).
Firma perdagangan QCP Capital berargumen bahwa Bitcoin akan terus mendapatkan sentimen positif selama imbal hasil obligasi terus menurun. Aset digital ini telah menunjukkan ketangguhannya di tengah guncangan ekonomi makro yang sebelumnya sempat menekan harga komoditas lain seperti emas.
Analis pasar memandang bahwa reli bantuan pada pasar obligasi akan menjadi katalis pendorong yang bersih bagi kenaikan harga Bitcoin selanjutnya. Dari sisi teknis, analis Aksel Kibar melihat bahwa Bitcoin telah berhasil melakukan uji ulang terhadap level dukungan atau support di angka 82.800 dollar AS (sekitar Rp1,30 miliar). Jika level ini mampu bertahan, maka peluang untuk menuju rekor harga yang lebih tinggi masih terbuka lebar bagi para investor.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor















